Tampilkan postingan dengan label Obrolan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Obrolan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Mei 2014

Kepada Siapa Kita Berbicara?

Image: dreamstime.com
Terkadang saat kita berbicara atau menyampaikan sesuatu kepada lawan bicara kita hanya ingin menjelaskan apa yang kita mau saja. Terkadang kita lupa bahwa apa yang kita bicarakan itu belum tentu yang bisa diterima oleh lawan bicara kita.

Bahkan, terkadang apa yang kita sampaikan dan kita bicarakan itu ternyata lebih pantas kalau ditujukan untuk diri kita sendiri.

Pernahkah kita mencoba memposisikan diri sebagai lawan bicara kita?

Seringkali kita mengalami adanya miss communication dengan siapa kita bicara, hal itu yang kemudian mengakibatkan proses komunikasi kita tidak bisa diterima dengan baik oleh pihak yang diajak bicara.

Pentingnya komunikasi adalah untuk menyampaikan apa yang kita maksud itu bisa diterima dan dimengerti supaya tujuan dari komunikasi itu menjadi lebih efektif.
bersambung...

Rabu, 29 Mei 2013

Selesaikan Secara Jantan

Seringkali aku menemukan kata-kata menarik setiap kali sedang berbincang dengan teman-teman. Seperti saat mengisi waktu dengan obrolan-obrolan ketika jam istirahat di kantor. "Mari kita selesaikan secara jantan!" kata salah satu temanku sambil menenteng secangkir kopi.

Bukan mengajak berantem loh..

Setelah selesai makan siang, seperti biasanya kami melanjutkan dengan obrolan sambil minum secangkir kopi dan beberapa batang cigarette yang selalu menemani. Mulai dari obrolan ringan, sedang, hingga kadang obrolan yang membuat kepalaku pusing.

Eiits, jangan salah tangkap dulu mengenai istilah 'jantan' dengan kopi dan cigarette yaa.. Sebenarnya itu gak ada hubungannya.

Ungkapan kata 'selesaikan secara jantan' itu tidak selalu diartikan dalam masalah atau urusan laki-laki yang akan berkelahi, tetapi dapat diartikan dengan banyak hal.

Kata tersebut merupakan bentuk ungkapan dan ajakan untuk menyelesaikan suatu masalah dengan sikap berani dalam ambil resiko, penuh tanggung jawab dan menyelesaikannya dengan cara yang terhormat.

Jadi, bila temanku yang mengajak ngobrol itu bilang 'mari kita selesaikan secara jantan' itu maksudnya kalau ngobrol jangan cuma omong kosong, dan apabila ada yang kurang paham apalagi sampai salah paham harus diluruskan, sehingga obrolan itu menjadi bermanfaat.

***

Nah, untuk kata "Jantan" juga dapat diartikan beberapa hal. Aku pernah membaca disalah satu akun twitter yang bernama @rusdirusdi melalui kultwitnya yang aku anggap itu bisa menjadi pencerahan. Untuk lebih lengkapnya, twit tersebut dapat dilihat di chirpstory.com dengan hastag #Jantan atau klik  disini





Jumat, 10 Mei 2013

Salah Paham

Pernah suatu waktu, aku mendengar salah seorang sahabat bicara, "Orang yang kecewa itu karena terlalu mengharap lebih, sedangkan orang yang salah paham itu karena tidak tahu". Hemm.. aku setuju!

Seperti halnya kemarin, berita yang simpang siur mengenai permasalahan e-KTP juga membuatku hampir salah paham, kalau saja aku tidak mencoba mencari tahu lebih banyak mengenai permasalahan seperti apa sebenarnya yang sedang diributkan.

Awalanya aku cuek, tapi ketika banyak teman-teman yang menanyakan hal itu, akhirnya aku mencari tahu dari berbagai sumber yang dapat dipercaya.

Ooh.. ternyata ada perbedaan persepsi dan cara memahami bahasa yang disampaikan oleh Kementerian Dalam Negeri yang telah menerbitkan Surat Edaran (SE) terkait pemanfaatan e-KTP.

Sebagian orang beranggapan, e-KTP tidak boleh difotocopy, jika e-KTP difotocopy maka menjadi rusak dan tidak berguna lagi. Ada juga yang meragukan kebenaran adanya chip di dalam e-KTP itu. Akhirnya dari sebagian orang yang hanya menelan mentah-mentah berita itu menjadi galau, karena kebanyakan dari mereka telah dan sering melakukan fotocopy e-KTP demi kepentingan dan urusan banyak hal.

Memang kalau hanya diperhatikan sekilas, penyampaian bahasa seperti itu bisa menjadikan salah paham. Apalagi kalau mendengar berita hanya setengah-setengah saja dan langsung ambil kesimpulan sendiri. Menjadi salah paham karena hanya memahami dari sisi luarnya atau fisiknya saja, padahal yang ingin disampaikan adalah fungsi dan tujuannya.

Masyarakat diajak setingkat lebih maju untuk menempatkan fungsi dan penggunaan e-KTP. Jika dulu selalu menggunakan fotocopy KTP (hard copy) dalam berbagai urusan yang berhubungan dengan data diri, sekarang cukup dengan memberikan data digital (soft copy) yang ada di dalam e-KTP.

Terjadinya salah paham memang sering kali timbul karena berbagai faktor, bisa dari faktor usia, pendidikan, lingkungan, budaya, bahasa dan masih banyak lagi. Hal semacam ini tentu menjadi masalah yang sering dan akan terus terjadi, apalagi seperti bangsa Indonesia dengan segala kemajemukannya.

Diperlukan komunikasi yang tepat dan sikap bijak untuk dapat memahami setiap permasalahan yang lahir karena ketidaktahuan yang sering kita temui.

Apa kamu juga salah paham dengan tulisan ini? silahkan kirim komentar kamu dan mari kita diskusikan...






Jumat, 03 Mei 2013

Macet dan Haram

Menurut definisi, macet artinya tidak dapat bekerja atau berfungsi dengan baik, dapat juga diartikan tersendat atau terhenti.

Menurut Kamus Bahasa Indonesia: [a] (1) tidak dapat berfungsi dng baik (tt rem, mesin, dsb); sendat; serat: rem mobilnya --; (2) ki terhenti; tidak lancar: pembongkaran saluran air menyebabkan lalu lintas --; usahanya --; air leding sedang --

Dan kalau menurut obrolan sahabat setandan, macetnya lalu lintas dapat diuraikan dari kepanjangan katanya, yaitu: M-A-C-E-T.

M, Main serobot tidak peduli keadaan.
A, Asal jalan tidak tahu aturan.
C, Celah sedikit dipaksakan.
E, Etika terkadang diabaikan.
T, Tanda dan rambu dianggap papan iklan.

Macet di jalan juga dapat disebabkan oleh banyaknya jumlah kendaraan atau barang atau orang yang tidak sebanding dengan kapasitas jalan. Hal seperti itu dikarenakan terlalu berlebihan.

Sedangkan berlebihan itu sendiri, kata Pak Ustadz itu bisa menjadikan haram, tetapi apakah keadaan macet itu bisa dikatakan haram?

Mohon kalau hal ini tidak tepat, sudilah meluruskan agar mendapatkan pencerahan.




Kamis, 02 Mei 2013

Berfikir Seperti Anak Kecil

Setelah siang hari dibanjiri oleh pendemo dari kalangan buruh se-jabodetabek, sore sampai malam harinya, hujan lebat yang mengguyur Jakarta dan kota sekitarnya pun akhirnya membuat banjir lagi di berbagai titik wilayah di Jakarta. Tapi kali ini banjir air, hemm.. banjir di Jakarta ternyata macem-macem ya?

Ada Banjir Pendemo, Banjir Kendaraan, Banjir Air, dll yang semuanya bikin permasalahan baru yaitu membuat ke-ma-ce-tan.

Seolah persoalan banjir membanjiri ini memang menjadi hal biasa, atau mungkin banjirnya sudah merasa nyaman dan betah di Jakarta?!

Lalu bagaimana tanggapan warganya?
Berikut cuplikannya:





Mungkin Jakarta memang butuh pemikiran dari anak kecil, kalau orang yang merasa gede nggak mau mengerti lagi.




Jumat, 21 Desember 2012

Nanti Ada Yang Marah?

Belum lama ini aku menulis status di Facebook tentang hal-hal yang pernah dialami oleh para pria ketika sedang jalan (kencan) dengan teman wanita.

Aku tulis begini:


Maaf, user facebook dalam komentar sengaja aku samarkan demi menjaga privasi.

Berbagai komentar yang masuk, ada yang pernah mengalami hal serupa, ada juga yang belum pernah mengalami atau malah mungkin belum pernah jalan sama wanita, ehemm..

Nah, ternyata dari jawaban-jawaban yang ada di komentar itu sangat beragam, ada yang jujur ada yang hanya becandaan, ada juga yang sepertinya sudah pengalaman dengan wanita, emm.. sorry atau mungkin bisa dibilang Playboy (buat yang merasa, aku nulis ini saja sambil cengar-cengir sendiri loh hihihi..)

Dari banyaknya komentar itu dapat diambil kesimpulan:
  • Hampir setiap wanita akan menanyakan hal itu demi menjaga hubungan yang baik. 
  • Sebagian pria akan menanggapi, bahwa pertanyaan itu merupakan rambu-rambu dalam menentukan langkah selanjutnya.
Sedikit bocoran buat kaum wanita, dari jawaban-jawaban pria ketika kamu menanyakan hal itu, sebenarnya dapat diambil kesimpulan, seperti apa karakter pria itu dalam menjalani hubungan.

Dan buat para pria, ayoo.. tunjukin kalau kalian adalah Lelaki yang istimewa!

Ehemm…

Rabu, 26 September 2012

Perempuan Lebih Mudah Kesurupan

Ada pertanyaan menarik saat saya dan kawan-kawan sedang ngobrol dan berkumpul di basecamp setandanpisang. Kenapa masih ada kesurupan masal? Kenapa yang kesurupan kebanyakan kaum perempuan? Dan kenapa kesurupan ini sering terjadi di sekolah-sekolah?

Di jaman sekarang ini, dimana kebanyakan orang berfikir rasional dan lebih mengutamakan logikanya masing-masing. Ketika ada kasus, seperti; kesurupan, tentu menjadi sangat beragam dalam menanggapinya.

Kenapa bisa kesurupan secara masal dan kenapa lebih sering terjadi pada kaum perempuan?
Kalau dari dua pertanyaan ini mungkin bisa dianalisa dan diambil suatu kesimpulan, karena kaum perempuan memang lebih mudah dalam mempengaruhi atau mengikat orang lain atau benda yang ada disekelilingnya, ketimbang laki-laki. Selain itu perempuan memiliki saraf penghubung antara otak kanan dan kiri yang lebih banyak dan sama besar, sehingga bagi perempuan yang kurang terlatih terkadang akan kesulitan untuk membedakan mana yang logis dan mana yang khayal, hal inilah yang membuat perempuan juga mudah dipengaruhi.

Tetapi mengapa sering terjadi di sekolah-sekolah? 
Kalau alasannya tempatnya menyeramkan, bukankah lebih banyak tempat yang lebih menyeramkan dari pada sekolahan, atau mungkin yang menyeramkan itu adalah guru-guru yang dianggap killer.

Sekolah merupakan salah satu tempat yang bukan hanya untuk mengasah otak namun juga untuk mengasah jiwa dan mental siswa. Apabila suasana di lingkungan sekolah kurang baik, maka bisa mempengaruhi perkembangan mental dan jiwa siswanya.

“Kalau tempat seperti sekolahan, yang dalam sehari lebih banyak waktu dimana kelas atau sekolah itu kosong dari pada proses belajar mengajarnya, itu menjadi kurang baik, karena suasana kelas atau sekolah menjadi dingin”, kata salah satu sahabat setandan sewaktu menjelaskan kenapa justru sering terjadi kesurupan di sekolah. “Coba bandingkan, bila kita memasuki lingkungan yang jarang dihuni dengan yang selalu dihuni sudah tentu suasananya berbeda, tempat yang selalu dihuni memiliki suasana yang hangat. Dan di sekolahan membutuhkan suasana yang hangat”, lanjutnya.

Tapi saya kira bukan karena alasan itu sehingga pemerintah akan manambah waktu atau jam pelajaran di sekolah-sekolah kan? Hihihi…


Jumat, 01 Juni 2012

Sisi lain: Bicara Soal Rokok

Sebagian ulama ada yang berpendapat rokok itu haram, ada yang berpendapat rokoknya tidak haram tapi merokok bisa menjadi haram dan ada juga yang berpendapat rokok dan merokok tidak haram.

Lalu seperti apa yang dibicarakan oleh kawan setandan soal rokok?

Ketika aku bertanya kepada seorang teman tentang perbedaan pendapat soal rokok, aku justru mendapatkan jawaban yang lebih menarik perhatianku dibanding soal ribut-ribut mengenai hukum rokok itu sendiri.

Jawaban dari temanku membuatku berpikir lain, ketika dia bilang "yang diperdebatkan itu belum tentu benar atau salah, yang jelas-jelas keliru justru adanya perselisihan yang ditimbulkan".

Jika perselisihan itu timbul karena semua merasa memiliki dalil, mengamini dengan keyakinannya, membuat pembenaran-pembenaran yang sebenarnya lebih cocok untuk konsumsi pribadi tapi digembar-gemborkan ke khalayak untuk diikuti, maka yang terjadi justru hanya membuat kebingungan.

__bersambung

Jumat, 18 November 2011

Jangan Pindahkan Kursi di Rumah Si Buta

gambar diambil dari Google Image
Banyak alasan mengapa seseorang enggan untuk memulai hal baru, salah satunya yaitu karena sudah merasa nyaman atau puas dengan kondisi yang sedang dihadapi.

Apabila seseorang sudah merasa cukup puas dengan habitnya, maka akan sulit untuk diajak berubah. Seperti halnya ketika kita mampir ke rumah si buta dan ada suatu barang yang berada di rumahnya lalu kita pindahkan, tentu si buta itu akan kesulitan untuk mencarinya, setelah kita beritahu maka ia harus menyesuaikan diri untuk membuatnya kembali terbiasa.

Awal menghadapi hal yang baru setiap orang akan mengalami kesulitan, dan apabila seseorang itu dengan alasan malas, maka tidak akan sanggup melewati perkembangan jaman.

Butuh penjelasan yang mudah dipahami agar seseorang bisa menerima dan tidak lari menjauh dari hal baru.


Rabu, 22 Juni 2011

Obrolan Warung Kopi

Lanjutan dari cerita: Memenuhi Undangan Sahabat
Kendaraan berikutnya Mitsubishi Lancer mengikuti dari belakang dengan jumlah 5 orang sahabat setandan, walaupun berangkat paling belakang bukan berarti kami tinggal begitu saja. Dalam perjalanan dengan saling komunikasi melalu telepon genggam kami saling memantau satu sama lain.
Setibanya di lokasi yang dituju (rumah baru salah satu sahabat setandan) ternyata sudah berkumpul juga sahabat lainnya yang terlebih dahulu datang dan ikut memenuhi undangan itu (lihat: memenuhi undangan sahabat). Lebih dari 50 sahabat berkumpul disana, jabat tangan erat masing-masing sahabat membuat suasana kemesraan terasa bahagia. Hal semacam ini jarang kita temui disaat masing-masing sibuk dengan rutinitas sehari-hari, diselingi canda tawa dan saling bertegur sapa menanyakan kabar berita para sahabat. Tanpa terasa malam semakin larut, acarapun dimulai dengan beberapa pesan dari pihak tuan rumah dan sesepuh sahabat setandan serta beberapa jamuan yang kami nikmati berjalan sekitar 2 jam, berikutnya dilanjutkan obrolan santai warung kopi.
Obrolan Warung Kopi
Seperti biasa saat paling ditunggu-tunggu pun tiba, obrolan warung kopi.. yah.. itu lah.. selain jamuan makanan juga bertambah asyiknya bercengkerama bersama sahabat dengan kopi pahit, jajanan pasar dan aneka makanan lainya membuat suasana semakin menyenangkan. Ingat bila diantara kita ada yang suka menonton pagelaran wayang kulit, disitu ada satu adegan yang selalu dinantikan oleh pemirsanya yaitu *goro-goro. Penuh canda dan tawa, tapi tidak sekedar itu, walaupun terkesan banyolan tapi terkadang menyimpan makna yang dalam, mungkin hal semacam itulah perumpamaan kami saat acara obrolan warung kopi.

Berikut beberapa petikan dari obrolan warung kopi:
-          - Sahabat dari Nganjuk Jawa Timur sebut saja namanya “CAK Ndan”
-          - Boss besar basecamp setandan sebut saja namanya “Boss Ndan” (dari kata setandan)
-          - Sahabat dari Tambun Bekasi sebut saja namanya “Ndan2”
-          - Sahabat dari Jakarta sebut saja namanya “Ndan3”
-          - Para sahabat sebut saja “Ndan Broth”

Cak Ndan: “kota Jakarta yang kita lalui tadi tak jauh beda dengan Jakarta tempo doeloe ya ndan..”
Ndan Broth: “tak jauh beda gimana maksudnya Cak Ndan?”
Cak Ndan: “yaa.. masih lengkap dengan gemerlap duniawinya. Apa dah pada lupa akhirat ya?”
Ndan Broth: “hohoho… terkadang emang seperti itu di tengah-tengah kota besar”
Cak Ndan: “Hufft.. dunia ini memang syurga buat orang yang cinta duniawi dan neraka buat orang yang cinta akhirat?”
Ndan2: “dunia ibarat racun akhirat ya ndan?”
Ndan3: “racun karena dia yang banyak terjerumus, tapi yang bisa menikmati dengan baik justru merasakan surga..”
Boss Ndan: “Sebenarnya dunia ini adalah kancah atau ajang bagi manusia untuk menentukan pilihannya, akhirat itu gimana waktu di dunianya. Kita tidak boleh mengatakan ini neraka atau racun, bukankan kita masih tinggal di dunia?”
Ndan Broth: “hemm… iya yah..”

Demikian sedikit cerita dari acara sahabat setandan yang sedang berbagi sembari ngopi dari salah satu acara di Tangerang.
Untuk keluarga, sahabat dan kawan setandan lainnya mudah-mudahan setiap langkah dan pengalamannya selalu menjadi manfaat buat yang lain. Terima kasih.

*Goro-goro : salah satu sesi atau babak dalam pagelaran kesenian wayang kulit yang ditandai oleh keluarnya punakawan, babak ini berisi petuah atau nasehat dengan diselingi humor dari setiap tokoh punakawan.

Jumat, 06 Mei 2011

Menampar Diri Sendiri

Kala itu aku sedang nongkrong di warung kopi sambil menikmati pisang goreng yang hangat. Disana aku bertemu sosok orang tua berjenggot lebat dengan wajah keriput namun jelas terpancar kedamaian dari wajahnya yang penuh guratan. Setelah aku berbincang-bincang dengan beliau, akupun beranggapan bahwa bukan hanya kedamaian yang tersimpan di balik wajahnya yang teduh, tetapi juga banyak berbagai pengalaman hidup yang pasti sudah dilaluinya.
Dari perbincangan kesana kemari aku semakin meyakini kalau Si Mbah ini orang yang pandai, cerdas tapi juga lugu. Si Mbah benar-benar memahami tentang kehidupan yang dijalaninya, itu yang membuatku semakin penasaran dan banyak bertanya kepadanya. Berbagai pertanyaanku selalu saja bisa dijawabnya dengan ringan tanpa bisa aku tolak untuk mengakuinya. Bahkan dengan pertanyaan-pertanyaanku yang kritispun Si Mbah menjawabnya dengan santai.

Rabu, 06 April 2011

Setandan Pisang

gambar diambil dari google image
Kalau kita beli buah-buahan di pasar atau toko buah dimanapun tentunya kita bisa memilih buah yang segar, enak, penuh gizi dan tentunya yang murah meriah. Terkadang kita memilah-milah semua yang ada di keranjang toko buah itu sampai-sampai si penjual cemberut, melihat semua pisangnya hanya dipegang-pegang.

Seperti halnya, kalau beli  satu buah pisang tentu kita memilih yang besar-besar, masih segar, manis rasanya, dll. Tapi, kalau beli pisangnya satu tandan tentu tidaklah semuanya mendapat yang besar dan pasti ada juga yang kecil.

Kita juga tidak bisa menukar yang kecil dalam setandan supaya diganti dengan yang besar, bisa marah-marah tuh yang jualan...

Waduh.. aku mau bicarain apaan sih ini.. koq malah jadi ngelantur..
Oh ia, intinya ibarat pepatah "bersatu kita teguh, bercerai berai kita runtuh" seperti pisang dalam setandan kalau kita potong-potong (preteli) yang kecil-kecil pasti jadi kurang berguna dan kita hanya memilih pisang yang besar-besar saja. Tapi, kalau masih dalam satu tandan yang kecil maupun yang besar tetap berharga. Disinilah letak persamaan derajat dalam setandan pisang.

Jadi... kalau kita merasa kecil, kurang berarti, tidak dipandang, minder, gabung saja kedalam "setandanpisang", pasti akan dihargai.

Salam-salam-salim.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Grants For Single Moms