Tampilkan postingan dengan label Keluarga Setandan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga Setandan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Januari 2014

Kolam Renang Bojana Tirta

Kolam Renang Bojana Tirta Pisangan Lama Rawamangun - photo keluarga

Location: Bojana Tirta Swimming Pool - Rawamangun, East Jakarta.
Model: Trisnoaji Family's
Date Taken: 12/29/2013
Event: Year-End Holidays
Photography by Rudi
Camera: Canon Digital IXUS-75

Selasa, 04 Juni 2013

Sigaraning Nyowo (Belahan Jiwa) bag.2

Kelanjutan dari posting sebelumnya yang membahas tentang garwo (belahan jiwa) dalam konsep berkeluarga di Jawa.

Setelah sepasang suami istri masing-masing berikrar untuk menjalani hidup baru dan memasuki pintu gerbang kehidupan berkeluarga melalui perkawinan, maka secara batiniyah pun mereka merupakan pasangan hidup di dunia dan akhirat. Oleh karena itu campur tangan Tuhan ikut mengisi dan mendampingi setiap langkah yang dilalui.

Bukti yang dapat kita ketahui dalam sehari-hari seperti ketika ada seorang suami sedang jauh dari istrinya dan salah satu dari mereka mengalami masalah berat, maka salah satu dari pasangannya akan ikut merasakan masalah tersebut walaupun tidak secara langsung. Contoh yang sederhana, jika suami sedang mendapat musibah, biasanya sang istri merasa gelisah, walaupun saat itu sang istri tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan suaminya.

Hal-hal seperti itu terkadang kurang kita perhatikan, padahal itu merupakan perhatian dari Tuhan pada suami istri yang berjodoh. Bukankah kita sering mendengar bahwa jodoh ada di tangan Tuhan.

Dan karena adanya campur tangan Tuhan itu yang telah memasukan sebagian jiwa pasangannya sebagai separuh jiwanya supaya dalam kehidupan keluarga dapat saling mengisi, melengkapi dan memahami sehingga menemukan kebahagiaan lahir dan batin serta dapat menemukan jalan keselamatan di dunia dan akhirat.

Minggu, 02 Juni 2013

Sigaraning Nyowo (Belahan Jiwa)

Di Jawa, seorang suami biasanya menyebut istrinya sebagai garwo, begitu pula sebaliknya, seorang istri juga menyebut suami sebagai garwo.

Garwo adalah sebutan untuk istri atau suami yang dalam bahasa jawa merupakan kependekan dari kata sigaraning nyowo atau dalam bahasa indonesia diartikan belahan jiwa.

Sebutan garwo dijadikan sebagai ungkapan setelah seorang laki-laki dan perempuan yang sebelumnya bercerai berai kemudian dipersatukan dalam ikatan suci yang disebut pernikahan agar saling melengkapi satu sama lain.

Dalam ikatan suci, untuk saling melengkapi maka seorang suami akan dimasukan jiwa sang istri sebagai separuh jiwanya, begitu pula seorang istri dimasukan jiwa sang suami sebagai separuh jiwanya pada saat akad nikah, sehingga masing-masing saling memiliki separuh jiwa pasangannya agar dapat saling mengisi, memahami dan melengkapi satu sama lain. Di situlah letak kesakralan dalam pernikahan.

Mengapa di-masukan? Lalu siapa yang me-masukan?

Bersambung...

Selasa, 21 Mei 2013

Memenuhi Undangan Sahabat (bag.2)

pernikahan Rudi & Nely R

Senin tgl 20 Mei 2013, tak seperti biasanya aku buka facebook dipagi hari, awalnya sekedar iseng lihat status sahabat, tapi kemudian aku terkejut ketika membuka kotak pesan dan melihat ada undangan biru.

Ada pesan masuk dari salah satu sahabat setandanpisang, Rudi (Kentunk). Dia mengundangku untuk menghadiri resepsi pernikahannya di hari itu juga. Di pesan itu tertulis acaranya hari senin, tgl 20 Mei 2013, mulai pukul 10.00 s/d 16.00 wib. "Wahh.. berarti hari ini" pikirku.

Kabar tentang rencana pernikahannya memang sudah lama aku dengar, tetapi kemudian aku jarang komunikasi lagi dengannya. Dulu memang hampir setiap malam minggu selalu bertemu dan kumpul-kumpul dengan sahabat lainnya di basecamp setandanpisang dan karena kesibukan masing-masing akhirnya beberapa bulan ini mulai jarang-jarang ketemu dan berkumpul.

"Kenapa undangannya mendadak?" tanyaku sambil menegaskan kebenaran info tersebut. Ternyata beberapa hari sebelumnya sudah ada undangan kertas yang memang ditujukan padaku dan telah dititipkan kepada salah satu sahabat setandanpisang yang lain tetapi lupa memberikannya padaku.

Demi sahabat, walaupun itu di hari dan jam kerja yang sibuk, aku tetap luangkan waktuku untuk menghadirinya. Bertempat di Gedung Aula Kolam Renang Bojana Tirta Pisangan Lama Rawamangun acara tersebut begitu tampak meriah sekali. Aku pun ikut bahagia akhirnya sahabatku itu telah menemukan pasangan hidupnya.

Di hari yang berbahagia itu tak lupa aku ajak juga keluargaku untuk turut serta menghadiri dan mendoakan pernikahan Rudi sahabatku:
  

"Selamat Menempuh Hidup Baru, semoga sampai kaken ninen dan bahagia dunia akhirat".





Senin, 13 Mei 2013

Masalah Dengan Nama Belakang (Last Name)

Sebenarnya ini merupakan kelanjutan dari posting dengan judul "Arti Sebuah Nama" yang kalau dilanjutkan menjadi bagian ketiga (bag.3). Tetapi berhubung ada suatu kejadian yang menurutku menjadi masalah baru, jadi aku ganti judulnya.

Hampir mirip dengan posting bagian kedua [lihat: Arti Sebuah Nama (bag.2)], yaitu ketika dulu aku ditegur oleh beberapa kerabat sewaktu memberi nama pada anak-anakku. Selain karena nama anakku menggunakan nama jawa dan sedikit tambahan dari bahasa sansekerta, aku juga pernah ditegur soal nama anak yang menurut mereka terlalu panjang dan mereka beranggapan kalau namanya terlalu panjang akan menjadi beban kepada anak itu. Benarkah?

Kedua anakku kuberi nama dengan tiga kata, ada nama depan (first name), nama tengah (middle name) dan nama belakang (last name).

Memang, di Jawa pada umumnya tidak terlalu mempermasalahkan dengan perlu atau tidaknya nama belakang, banyak nama jawa yang hanya terdiri dari satu kata (nama tunggal). Seperti nama kecilku yang tertera di Akte Kelahiran dan KTP hanya nama 'Sutrisno' saja. Dan baru setelah aku menikah kemudian ada tambahan 'Aji' sebagai nama belakang, menjadi Sutrisno Aji. Tetapi, nama itupun tidak ditambahkan pada waktu pembuatan KTP yang baru.

Nah, kejadian beberapa hari kemarin telah membuka sedikit wawasanku, tentang perlunya nama belakang. Ketika itu aku menuliskan identitas diri pada saat aku mendaftar akun salah satu aplikasi di internet. Memang hampir setiap pengisian data untuk name pada aplikasi buatan luar negeri ada nama depan, nama tengah (jika ada) dan nama belakang yang wajib diisi.

Seperti biasa aku menulis nama 'Sutrisno' sebagai nama depan dan 'Aji' sebagai nama belakang. Pendaftaran berjalan mulus, namun ketika aku harus mengisi nama yang tercatat di rekening bank, disitulah awal terjadinya masalah.

Nama yang tercatat pada rekening bank tentu saja hanya 'Sutrisno' atau sesuai dengan nama di KTP, sedangkan nama yang terdaftar pada akun tersebut Sutrisno Aji. Dan masalahnya adalah apabila nama rekening bank berbeda dengan nama yang terdaftar di akun maka proses transaksi yang berhubungan dengan perbankan nanti dapat mengalami kendala. Duh..!!!

Memang sih, masalah seperti itu tetap bisa diproses dan terselesaikan dengan 'catatan', tapi membutuhkan langkah-langkah yang menurutku terlalu ribet.

Disitulah kemudian aku berfikir, ternyata nama belakang itu bisa menjadi sangat penting. Tidak hanya itu, rupanya masalah nama tunggal juga bisa menjadi masalah sendiri jika kita pergi keluar negeri loh... Karena ada beberapa negara yang mengharuskan nama belakang (last name) tercetak pada passport dan visa, bahkan ada yang harus ditambahan nama tengah (middle name).

contoh penulisan nama pada visa

Salah satu contoh adalah ketika ada sahabat setandan hendak pergi umroh dan mengurus passport untuk keberangkatan ke Arab Saudi, karena nama sahabat setandan itu hanya memiliki nama tunggal sehingga harus menambahkan nama orang tua dan kakeknya sebagai nama tengah dan nama belakang. Dengan alasan untuk dapat pergi ke tanah suci harus menggunakan passport dan visa dengan tiga kata pada nama. Hemm...

Melihat kasus diatas, aku akhirnya lega dan tak perlu berdebat dengan orang lain ketika ada yang menegur, nama anak kamu kepanjangan tuh!. Biarin saja...

Suatu saat mereka akan tahu sendiri penting atau tidaknya sebuah nama.

Sabtu, 04 Mei 2013

Arti Sebuah Nama (bag.2)

Siapa Namamu?

Kebanyakan orang akan beranggapan bahwa nama memiliki arti tersendiri, oleh karenanya jika memberi nama anak tidak akan sembarangan.

Aku pernah dapat protes, ketika aku memberi nama anakku, bukan karena artinya melainkan dari bahasanya. Aku menggunakan bahasa jawa untuk nama anakku. Katanya, nama yang bagus itu yang islami, yang ke arab-araban. Lalu aku bertanya, apakah bahasa arab itu pasti bahasa islam? apakah nama islami itu harus menggunakan bahasa Arab?

Apa bedanya AJI dengan SYARIF ? bukankah artinya sama, yaitu Mulia.

Bila ada yang menyebut nama itu dapat dijadikan sebagai doa, apakah tidak boleh berdoa dengan bahasanya sendiri?

Berbagai pertanyaan waktu itu aku sampaikan kepada orang yang protes pada nama anakku. Aku pun bilang, aku bukan orang arab, walaupun aku belajar bahasa arab, tapi aku lebih paham dengan bahasaku sendiri, bahasa jawa.

Beruntung waktu itu yang protes pun memahami dan tidak mengajak debat dengan dalil-dalinya. Tapi, aku pun mengucapkan banyak terima kasih, karena dengan demikian aku akan lebih hati-hati dalam memberi nama anak.

Seperti anakku yang kedua kuberi nama "Nitya Natavira" (Natavira = Natawira = Natha + Wira). Ketika ditanya arti nama anakku yang kedua, aku bilang, kalau orang jawa tentu lebih paham.

Kamis, 31 Januari 2013

Renovasi (bag.1)

Hampir sebulan aku mengisi kesibukan disela-sela waktuku dari pulang kerja sampai larut malam untuk membenahi rumah, banyak hal dan selalu ada saja yang dikerjakan, memang tidak sendirian, ada dua tukang yang turut membantu merapikan.

Aku memang lulusan STM jurusan Bangunan Gedung, dulu sekolah di STM Yayasan Wongsorejo Gombong, mengenai praktek di lapangan aku memang tidak seterampil tukang yang memang sudah berpengalaman dibidangnya, tetapi sedikit banyak aku bisa mengikuti dan mempraktekkan apa yang sudah pernah aku pelajari sewaktu di sekolah. Walaupun tangan sering kegetok palu dan bengkak-bengkak tapi rasa puas dengan hasil karya sendiri itu dapat mengobati rasa sakit.







Jumat, 20 April 2012

Habis Gelap Terbitlah Aku


Kartini-ku
Aku tak mengenal secara langsung seperti apa Kartini, aku hanya tahu dari cerita sejarah, dari guru-guru di sekolah, buku-buku sejarah dan cerita dari teman-teman yang juga belum tentu berasal dari sumber yang jelas.

Kartini bukanlah nama Ibuku, namun setiap kali ada peringatan Hari Kartini yang terlintas dalam benakku adalah sosok perempuan cantik yang telah melahirkanku.

Ya, jika disuruh menggambarkan seperti apa Kartini, pasti yang akan aku gambarkan adalah sosok Ibuku, beliau lah Kartini-ku. Sosok yang aku kenal dan bukan sekedar tahu.

Kartini-ku yang telah menyibakkan tabir gelap, membawakan lentera dan menatihku dikala aku belum mengenal dunia ini. Beliau yang membukakan mata hatiku dan menunjukan betapa besar perhatian, perjuangan dan pengorbanan kaum hawa pada setiap sisi kehidupan. Beliau menjadi guru yang selalu mengajariku, menjadi dokter yang selalu merawatku, menjadi malaikat yang selalu menjagaku.

Aku ingat, ketika aku mulai beranjak dewasa dan mulai menyukai lawan jenis, Ibuku sering menasehatiku. Ahh.. sejujurnya aku malu kalau harus kuceritakan soal itu. Tapi itu kenyataan dan akan selalu kujadikan pelajaran bagiku.

Perhatianku pada setiap wanita yang kukenal kala itu justru dapat dibilang kebablasan. Sehingga aku pernah mendapat predikat playboy oleh teman-teman, karena kekonyolanku itu. Kartini-ku lah yang menasehatiku, bahkan pernah men-jewerku untuk memberikan pelajaran supaya aku lebih menghormati wanita.

Beliau mengatakan bahwa setiap wanita akan menjadi sosok ibu, yang selalu siap menggantikan posisi sang ayah untuk menghidupi dan menjaga anak-anaknya serta menjaga keseimbangan hidup dan kehidupan.

Aku mencintaimu Ibu, dan akan selalu berusaha mengharumkan nama-mu, karena engkaulah Kartini-ku.


Selasa, 10 April 2012

Beda Zaman

"Papaa.. Owin mau mainan yang itu!" teriak anakku, sambil menarik lenganku dan menunjukan permainan yang ingin dicobanya. "Nduk, berani?"* tanyaku. Dia mengangguk dan meyakinkanku, kalau dia bisa melakukan permainan itu.

Dia perempuan, berumur 3 tahun, ingin mencoba menaiki skuter dengan pedal yang digenjot, otoped. Permainan yang memang cocok dan selayaknya dimainkan oleh anak seumurannya, namun sebagai orang tua terkadang memiliki kekhawatiran berlebih apabila anaknya mencoba hal baru baginya atau hal yang belum pernah kita alami sebelumnya.

Orang tua juga terkadang teriak-teriak karena ngeri melihat anak-anaknya bermain, tapi mereka malah enjoy. Rasa khawatir itu terjadi karena kita berada pada zaman yang berbeda. Dulu, permainan yang biasa dilakukan paling cuma mainan kelereng, petak umpet, mobil-mobilan yang terbuat dari bambu dan hal semacamnya, tentu berbeda dengan semakin banyaknya jenis permainan yang sekarang ada.

Apa-apa yang dilakukan oleh anak-anak, belum tentu kita sebagai orang tuanya bisa melakukannya juga, terkadang orang tua berusaha menjaga agar anaknya tidak jatuh dan terluka pada saat bermain, tapi mereka sebenarnya paham atas dunianya. Dunia anak-anak, dunia bermain. Dengan memberikan kebebasan dan kepercayaan tentu akan membuat anak menemui pelajaran dan pengalaman barunya.

Semangat anak-anak ketika sedang mencoba melakukan permainan yang baru, dia akan berusaha menunjukan kepada orang tuanya, kalau dia bisa. Hal seperti itu, saya yakin orang tua tidak perlu melarang anak-anaknya bermain atau melakukan permainan yang belum pernah dilakukan, karena itu hanya akan melemahkan mental sang anak. 


*Nduk : sebutan atau panggilan untuk anak perempuan (Jawa)

Rabu, 04 Januari 2012

Wisata Kota Gombong

Kesempatan libur tahun baru 2012 aku habiskan di kampung kelahiranku, kota Gombong bersama keluarga tercinta. Mudik ke Gombong memang tidak jarang kami lakukan, tapi mudik kali ini memiliki kesan tersendiri, kami sengaja untuk silahturahmi ke orang tua.

Waktu liburan yang singkat itu selain untuk bersilahturahmi, kami juga luangkan untuk rekreasi ke Benteng Van Der Wijck. Benteng ini merupakan bangunan tua peninggalan Belanda yang kini telah dipugar menjadi tempat salah satu tujuan wisata di kota Gombong Kebumen.

pintu gerbang Benteng Van Der Wijck
Benteng Van Der Wijck - tampak depan
Prasasti Benteng Van Der Wijck
area tengah benteng
lorong-lorong barak
anak dan istriku saat di lorong-lorong benteng
ruang photo-photo benteng sebelum renovasi
tank perang jaman belanda
eowyn di tempat bermain anak
arena bocah (tempat bermain anak)
Dulu sebelum aku merantau ke Jakarta, benteng ini belum dipugar se-bagus sekarang, tapi memang dari dulu pun benteng ini sudah sering dikunjungi oleh wisatawan lokal. Setelah dilakukan renovasi seperti sekarang ini jadi semakin ramai pengunjung yang datang. Selain disediakan arena bermain dan juga gedung-gedung pertemuan di area sekitar benteng, terdapat pula penginapan-penginapan bagi para tamu wisata yang berkunjung di kota Gombong.
hotel di area sekitar benteng
beberapa gedung pertemuan di sekitar benteng

Bagi yang suka traveling, mampir ke kota Gombong deh.. pasti akan menemukan banyak cerita disana.

Tentang Benteng Van Der Wijck, selengkapnya klik disini

Selasa, 16 Agustus 2011

Untuk Anakku (bag.2)

UNDANGAN ULANG TAHUN
Pesanan kue ulang tahun sudah datang, undangan untuk teman-temanmu pun sudah disampaikan, walaupun tidak secara tertulis dan hanya disampaikan dari mulut ke mulut.

Sejujurnya kami tidak mengharapkan ada kado atau bingkisan dalam bentuk apapun dalam perayaan itu, makanya mama mu mengundang teman-temanmu secara mendadak. Yang kami harapkan adalah do'a dan kehangatan persahabatan dari para undangan demi kesembuhan sakit yang kamu derita. Tapi tanpa diduga ternyata banyak yang memberikan kado untukmu.
ucapan selamat ulang tahun dari teman-teman

Acara diadakan di Rumah Sahabat Anak (sanggar pendidikan) di sebelah rumah. Perayaan sederhana yang dipandu Kakak-kakak pengajar dari sanggar pendidikan itu (Kak Fuad dan Kak Fiqron) tampak meriah diselingi hiburan dari teman-teman kamu yang menyumbang lagu dan ada juga permainan-permainan seru yang membuat suasana ceria.
diselingi hiburan dan sumbangan lagu dari teman
Sambutan dari mama kamu yang berisi do'a dan harapan supaya kamu menjadi anak yang sholeh dan berguna, serta selalu diberikan kesehatan oleh Allah SWT.

TRADISI TIUP LILIN
Acara tiup lilin pun dilakukan setelah kamu berdoa sesuai harapan kamu. Memang tradisi ini sebelumnya tidak pernah dilakukan oleh keluarga kita, karena sewaktu seusiamu, kami masing-masing tinggal di kampung yang memiliki kebiasaan dan adat yang berbeda.
tiup lilinnya..tiup lilinnya..tiup lilinnya....
Bagi sebagian orang, tradisi tiup lilin diacara ulang tahun mungkin tidak diperkenankan, namun untukmu, bapak sampaikan, ini memang bukan hal yang wajib, tapi ada banyak hakekat yang terkandung di dalamnya.

Api memiliki sifat panas yang sering disimbolkan dengan nafsu amarah dan merupakan bahan terciptanya Syaitan, dengan kamu berdoa kemudian meniup lilin itu memiliki makna supaya kamu dapat meredam hawa nafsu dan amarahmu serta mematikan sifat syaitan yang ada pada dirimu. Semoga kelak kamu memahami ini.
berbagi kue ultah
Selanjutnya kue ultah dibagi-bagikan pada teman-temanmu. Acara selesai menjelang buka puasa, keceriaan itu sangat jelas terlihat dari raut wajahmu.

Setelah semua teman-teman pulang, kamu mulai sibuk dengan membuka kado pemberian teman-temanmu dengan mengajak adikmu untuk berbagi hadiah, ada mainan, peralatan sekolah, dan banyak lagi lainnya.
kado ulang tahun
Malam harinya kamu dengan wajah gembira mengucap terima kasih pada kami dan bilang besok kamu mau berangkat sekolah karena merasa tidak sakit lagi, kami pun tersenyum.
Doa dan harapan kami selalu yang terbaik buatmu, semoga kamu menjadi orang yang bermanfaat buat sekelilingmu. Amiin.

Untuk Anakku (bag.1)

Postingan ini aku tujukan khusus untuk anakku, Setoaji.
Bulan ini merupakan bulan yang penuh rahmat dan keberkahan bagi setiap orang yang mau mengakuinya, tak terkecuali untukmu anakku.

Tanggal 12 Agustus 2011 adalah hari ultah kamu yang ke-6, menurut kalender Masehi, bertepatan juga dengan bulan Ramadhan 1432 Hijriyah.

SAUR PA..!!
Ada beberapa cerita menarik yang ingin kusampaikan padamu, hingga harus kutuliskan ini. Pada awal puasa di bulan ini, kamu begitu semangat bangunin tidur bapak dan mamamu untuk sahur.

Hari pertama hingga hari ke-3, kamu masih penuh semangat bangunin tidur kami, bahkan ketika bapak masih merasa berat membuka mata, karena baru tertidur beberapa menit, kamu teriak dengan keras di telinga bapak. Kalau disuruh jujur ada sedikit rasa emosi, tapi kamudian aku redam, maafin bapak ya nang... (nang: panggilan untuk anak laki-laki di jawa).
Setoaji dan Eowyn Nitya Natavira
Hari berikutnya, kamu lah yang dibangunkan, tetap dengan semangat kamu bangun dan kemudian kamu membangunkan adikmu Eowyn Nitya Natavira yang baru berumur 2 tahun untuk sahur bersama, adikmu yang belum tahu apa itu sahur pun ikut bangun.

RAMADHAN KEBERKAHAN UNTUKMU
Selain itu ada satu cerita yang membuat kami sebagai orang tuamu memiliki kesan tersendiri, di bulan ini kamu teringat hari lahirmu 6 tahun silam dan meminta kami merayakan ulang tahunmu. Kami kemudian mencari solusi untuk permintaanmu, karena kami tidak menyiapkan anggaran khusus untuk hal semacam itu. Ini bukan soal uang, tapi ada hal lain yang suatu saat kamu pahami.
Keinginanmu yang kuat hingga membuat kamu sakit karena memikirkannya, kamipun belum menyadari kalau sakitmu karena itu.

Selama beberapa hari kamu tidak masuk sekolah karena menjalani perawatan dan menurut dokter kamu menderita penyakit typhus. Kami sebagai orang tuamu merasa bersalah karena kurang bisa menjaga, merawat dan memahami keinginanmu.
Mendekati hari H (ultah), kamu masih demam tinggi, akhirnya kami berharap apabila memang itu yang terbaik buatmu, kami akan turuti permintaan kamu untuk merayakan ultahmu itu.
Sesampainya hari H, kamipun belum mendapati kesempatan itu, saat kamu menanyakan kapan acara itu, kami hanya tersenyum pahit. "sabar ya nang.." jawabku.

Setelah lewat 2 hari akhirnya kesempatan itu datang, tepatnya hari minggu, 14 Agustus 2011, ulang tahunmu baru bisa dirayakan.

Rabu, 13 Juli 2011

Ingat Kampung Halaman

11 tahun telah aku lalui semenjak memutuskan untuk pergi merantau, dikala itu yang ada dalam pikiranku adalah bagaimana aku bisa bekerja untuk mencoba belajar mandiri dan memenuhi keperluanku sehari-hari, dimana aku yang sudah dibesarkan oleh kedua orang tuaku merasa malu karena selalu merepotkan orang tuaku, namun sampai sekarang kenyataannya pun masih saja merepotkan orang tuaku. Apalah artinya diriku tanpa doa restu orang tua. Beliau yang selalu bangun malam-malam untuk memohonkan pada yang maha kuasa demi keselamatan anaknya.
“ketika pulang kampung”

Rasa rindu yang tak tertahan itu akhirnya membawaku langkahku menyusuri jalanan menuju kampung halaman. Berdua dengan anakku Setoaji yang juga sedang libur sekolah aku memesan tiket kereta api. Rupanya keberuntungan masih belum berpihak pada kami, tiket sudah habis terjual dan tak ada lagi kursi yang tersedia.
suasana kereta api ekonomi [setoaji]
Karena anakku lebih senang dan hanya mau naik kereta api, terpaksa kami naik kelas ekonomi dan berdiri. Kasihan juga anak masih kecil harus berdesak-desakan, tapi karena kemauannya yang kuat aku turuti juga. Ternyata masih ada satu dari sekian banyak penumpang kereta dalam satu gerbong yang berbaik hati melihat anakku berdiri dan menyisihkan tempat duduknya buat anakku, akupun lega walaupun aku harus berdiri tetapi yang penting anakku bisa duduk.

Lain halnya ketika sudah tiba di Stasiun Gombong dimana aku turun dari kereta itu dan mencari kendaraan berikutnya yang menuju ke rumahku, penumpang minibus justru banyak yang kemudian berdiri untuk mempersilahkan aku dan anakku duduk. Mereka merasa lebih muda dariku dan juga melihat aku yang terlihat kecapean setelah menempuh perjalanan jauh mempersilahkan aku duduk. Dalam pikiranku terbersit, ini baru adab kampungku yang menghormati dan menghargai orang lain, lain halnya yang sering aku temui selama di perkotaan, karena merasa paling dulu kemudian tak peduli dengan siapapun atau orang lain sesama penumpang, walaupun orang yang dihadapannya sedang repot tetap saja cuek dan duduk dengan santainya. Huffftt.. mungkin ini perasaanku saja yang terlalu sensitive.
angkutan umum gombong-purwokerto
Turun dari angkutan umum yang menuju rumah ternyata kami sudah dijemput ibuku, rasa haru bercampur bahagia sangat kami rasakan. Penuh rasa khawatir menanyakan bagaimana perjalanan kami “capek ya nang?” Tanya ibuku. “nggak mbah, malah asyik loh naik kereta” jawab anakku. Aku hanya tersenyum mendengar jawaban anakku.
jalan menuju rumah nenek [setoaji & neneknya]
Pertemuan seorang ibu dengan anaknya dan seorang nenek dengan cucunya yang dipisahkan jarak dan waktu sangat terasa mengharukan. Air mataku tanpa sadar sudah membasahi pipi.

mengenang kembali jalan-jalan kenangan

Sesudah bertemu semua keluarga di kampung hatiku merasa lega, rasa lelah dari perjalananku seolah hilang begitu saja. Setelah saling bertegur sapa dan bercengkerama dengan penuh kemesraan aku lanjutkan dengan menelusuri jalan-jalan kampungku bersama beberapa keluargaku.
jalan kampung
Kenangan lama tentang kampungku kembali mengisi pikiranku, walaupun sudah banyak perubahan tetapi rasa damai itu tetap terasa disana.

Selasa, 12 Juli 2011

My Grandpa In Memoriam

Makam Ahmad Sumeri.
Kamis, 07 Juli 2011 M, pukul 22.15 WIB atau Jum’at Pahing, 06 Ruwah 1944 pada kalender Jawa, seorang laki-laki tua yang selalu aku kagumi, hormati dan sangat aku banggakan dari sebuah desa kecil di Kabupaten Kebumen itu menyampaikan pesan, bukan dengan ucapan yang keluar dari bibir beliau, atau SMS yang dikirim melalu hand phone beliau, bukan juga surel atau faximile yang aku terima dari beliau, melainkan dengan bahasa alam yang membuat dadaku sesak, nafasku tertahan dan air mataku seolah tak dapat kubendung. Beliau mengabarkan melaui hening yang menyelimuti malam, menyebar pada setiap rumah keluargaku. Pesan estafet itupun sampai ke Jakarta dan aku terima.
Rasa kurang percaya dengan apa yang terjadi, aku pun memastikan pada kerabat-kerabatku, benarkah kakek sudah meninggal dunia? “Iya tris, simbah meninggal dunia” kata kerabatku. Seketika pikiranku kosong untuk beberapa detik dan setelah sadar segera kulanjutkan pesan estafet itu kepada seluruh kerabatku yang di Jakarta.
Aku merupakan cucu pertama dari anak tertua kakekku, sebagai seorang cucu yang selalu diperhatikan aku sungguh merasa kehilangan. Betapa tidak berdaya aku mendengar kabar itu, tanpa daya bibirku tertatih mengucap kata pada sang maha kuasa “Aku mohon kabulkanlah doaku Tuhan”. Doa yang tak terucap dari bibir dan hanya kedalaman hati yang tahu itu aku amini.
Turisno Urip Santoso bin Ahmad Sumeri dan keluarga
Kakek bernama Ahmad Sumeri bin Krama Prawira bin Yasa Manawi, memiliki buyut bernama Setoaji bin Sutrisno Aji bin Turisno Urip Santoso bin Ahmad Sumeri. Kakek meninggalkan 5 anak, 16 cucu, 3 buyut. Kami hanyalah keluarga kecil di kampung itu, namun hampir satu kampung setiap orangnya merasa sudah menjadi bagian dari keluarga kami, terbukti dengan banyaknya kerabat dan tetangga yang turut hadir mengikuti acara pemakaman kakek.
Keluarga, kerabat dan tetangga berdoa untuk almarhum
Sembah sujud dari cucumu mbah.. semoga kasih sayang Tuhan menuntunmu melewati jalan terang menuju alam salam. Kepada yang ditinggalkan semoga diberi ketabahan dan keimanan, serta kepada seluruh kerabat dan siapapun yang sudah membantu baik secara langsung maupun tidak langsung semoga diberi kemudahan oleh Tuhan dalam menempuh perjalanan hidup. Amiiin.

Sembah sujud,
dari cucumu: Sutrisno Aji

Sabtu, 25 Juni 2011

SWAN Kaos Oblongku

kaos oblong all cotton
Kaos oblong yang tertua yang pernah ada di Indonesia itu paling comfort aku pakai. Selain merupakan pakaian yang dikenakan secara turun menurun dari kakek-kakekku, SWAN sudah menjadi warisan tersendiri bagi keluargaku. Memang sekedar kaos oblong yang murah dan mungkin tidak banyak anak muda atau orang seumuranku suka mengenakannya, tapi bagiku SWAN memiliki arti dan makna sendiri. Setiap kali memakai atau bahkan hanya sebatas melihat kaos itu, aku selalu teringat pesan orang tuaku “swan ya tris…!!!”.

Kata SWAN bila diucapkan sepintas terdengar seperti kata SOWAN, dalam bahasa Jawa, sowan artinya menghadap, berkunjung, bertamu atau silaturahmi. Dan dalam etika jawa lebih menegaskan sowan itu adalah menghadap kepada yang dihormati atau dimuliakan. Dari situlah sebagai orang Jawa aku sedikit memahami apa yang dikehendaki orang tua.

SWAN dalam bahasa Inggris artinya Angsa, dan itu tergambar pada logo yang terpasang di kaos oblong yang terbuat dari bahan All Cotton itu. Seperti halnya hewan angsa yang memiliki keunikan dalam menyesuaikan tempat atau lingkungan, SWAN juga memiliki keunggulan dalam hal itu, dapat dikenakan dalam cuaca apapun. *(bukan promosi)

Bagaimana dengan kaos oblongmu?

Senin, 20 Juni 2011

Memenuhi Undangan Sahabat

Sabtu, 18 Juni 2011 pukul 21.00 WIB, saya dan sahabat Setandan mulai start dari basecamp menuju Cikupa-Tangerang. Berjumlah 21 personil kami menggunakan 3 kendaraan meluncur ke arah barat melintasi kota Jakarta. Sebenarnya sahabat Setandan bukan cuma itu saja, ada banyak jumlah sahabat seandainya harus dihitung satu persatu, mungkin ratusan atau bahkan ribuan yang tidak bisa ikut karena alasan tertentu. Tetapi karena memang undangan dari salah satu sahabat Setandan yang tidak memungkinkan apabila harus dikumpulkan semua untuk menghadiri syukuran rumah baru yang sekarang mulai ditempati sahabat di wilayah Tangerang.
Awalnya sahabat yang punya hajat ini pernah tinggal di daerah Kalideres-Jakarta Barat, beliau sering berkunjung ke basecamp SetandanPisang di Rawamangun untuk berkumpul, silaturahmi dan berbagi dalam segala hal, seminggu sekali selalu datang dengan sahabat lainnya yang di Kalideres. Berjalannya waktu beliau memutuskan pindah ke Tangerang, memang semakin jauh apabila dihitung jarak antara Rawamangun dengan Cikupa, tetapi walaupun begitu dengan tekad hati dan rasa cinta kekeluargaan selalu saja beliau sempatkan untuk berkunjung ke basecamp. Hal itulah yang membuat kami ada semacam keterikatan bathin sesama sahabat.
Sahabat yang ikut memenuhi undangan hadir dari berbagai wilayah, mulai dari Subang-Jawa Barat, Tambun-Bekasi, Harapan Indah-Bekasi, Cakung, Rawamangun, Cawang Jakarta Timur dan wilayah sekitar.

Sabtu, 21 Mei 2011

Mengapa Kita Butuh Komunitas?

Kumpul Setandan. photo: Nizar Ikbal
Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri, perlu berbagi atau saling tolong menolong. Salah satu sifat manusia yang paling menonjol bahwa setiap orang selalu ingin dirinya dianggap penting, diakui keberadaannya dan disamakan derajatnya.

Sebab itulah yang membuat manusia butuh tempat untuk menyampaikan maksud dan tujuannya, entah itu dari individu atau kelompok. Kemudian dari itu pula muncul adanya komunitas-komunitas yang dijadikan wadah untuk menyalurkan keinginan dan kebutuhannya.
 
Beragam Komunitas yang ada sekarang ini begitu marak, dari suatu kaum yang merasa tertindas sampai kaum yang posisinya di atas, semua itu demi menjaga keberlangsungannya. Dan pada intinya semua itu memiliki tujuan yang sama, supaya dihargai, dihormati, diperhatikan, diakui, disamakan atau disegani.
 
Bagi individu maupun kalangan tertentu yang merasa sanggup membuat, mendirikan dan membawa komunitas, mereka akan mengolah dan membuat aturan-aturan dalam komunitas itu bagi siapa saja yang hendak ikut dalam komunitasnya. Tetapi bagi beberapa kalangan atau individu yang kurang mampu membawa komunitas, mereka akan mencari komunitas yang dianggap sesuai bagi dirinya.
Awalnya masing-masing komunitas itu memiliki tujuan yang baik bagi pengikutnya namun tidak sedikit dari suatu komunitas dengan komunitas lain yang kemudian saling berbeda pendapat dan timbul saling perdebatan yang akhirnya berakibat tidak baik.

Setiap orang berhak menentukan komunitas yang akan diikutinya selama itu baik untuk diri orang itu. Namun banyak pula dari mereka yang tidak mengerti dan memahami komunitas seperti apa yang akan diikutinya.

Berikut beberapa pilihan untuk menentukan komunitas yang tepat untuk diikuti:
  • Komunitas yang menjunjung tinggi kebersamaan dan kekeluargaan.
  • Komunitas yang dapat menghormati dan memahami keinginan kita.
  • Komunitas yang dapat menghargai kemampuan atau potensi diri kita.
  • Komunitas yang dapat menyalurkan dan memberi kesempatan untuk kita berkembang ke arah yang lebih baik.
  • Komunitas yang menjadikan kita aman, nyaman dan damai serta merupakan wadah untuk saling berbagi dalam suka maupun duka.

    Komunitas yang menjadikan kita dihargai dan dihormati sebagai contoh, seperti: apabila kita berada dalam iring-iringan atau rombongan Kepala Negara yang sedang berjalan dan kita ikut disitu, tentu kita ikut pula disambut dan diberi hormat.

    Komunitas menjadikan wadah untuk saling berbagi dalam suka maupun duka, sebagai contoh, seperti: apabila kita berada di dalam iring-iringan atau rombongan penghantar jenazah (orang meninggal dunia) yang sedang berjalan menuju pekuburan, tentu kita akan ikut merasakan duka cita itu.

    Minggu, 01 Mei 2011

    Basecamp SetandanPisang

    Beberapa photo lokasi basecamp SetandanPisang:
    *lapangan parkir SetandanPisang

    *warung kopi SetandanPisang

    *ngumpul bareng sahabat setandan

    *di kolam renang biasa mandi bareng sahabat setandan

    *sahabat suka permainan catur

    *ada yang asyik main catur ada juga yang asyik nulis syair

    *berbagi sembari ngopi

    Rabu, 06 April 2011

    About Me

    Trisnoaji
    Panggil saja aku becicing...
    Karena aku hanya ibarat salah satu dari sekian banyak pisang yang tergantung dalam satu tandan.
    Aku dilahirkan 25 Mei 1982 di kota Gombong - Kebumen - Jawa Tengah - Indonesia. Ibuku dari Solo - Jawa Tengah dan Bapakku dari Gombong - Jawa Tengah. Aku dibesarkan di tempat yang sama dimana aku lahir, mengenyam pendidikan yang tidak terlalu tinggi dan setelah  merasa dewasa aku merantau ke kota Jakarta. Aku hanya seorang pegawai di suatu perusahaan swasta. Tempat tinggalku sekarang di wilayah Jakarta Timur.
    Dalam pergaulan dengan siapa saja tanpa memilah-milah. Aku punya base camp di daerah Rawamangun tepatnya di Pisangan Lama III, dimana sering aku jadikan tempatku belajar mengenali hidupku. Dari situlah aku sering mendapatkan pemahaman-pemahaman tentang perjalanan hidupku.


    Keluarga SetandanPisang:


    - Bang Aca, Sumedang-Jawa Barat, (penyair) bantu penambahan isi posting, puisi, dll.
    - Bang Alung, Pemangkat-Kalimantan Barat, menambahkan istilah-istilah dan idenya yang gokil.
    - Mas Lesmana, Pasar Rebo-Jakarta, memberi saran, ide-ide dan pembuatan judul posting blog.
    - Mas Supri, Pisangan Lama-Jakarta, memberi input yang positif dan penyedia tempat musyawarah.
    - Mas Jarwo, Pulo Jahe-Jakarta, selalu menemani dan berbagi.
    - Nizar Ikbal, Pulo Jahe-Jakarta, selalu siap menyuguhkan kopi pahitnya.
    - Gendi, Brebes-Jawa Tengah, selalu siap dengan jaburannya dan banyolannya yang gokil.
    - Nophal, Malang-JawaTimur, meramaikan dan nyebarin blog, kreatifitasnya selalu dinantikan.
    - Istri dan Anakku, sebagai sumber inspirasi dan selalu memberikan spirit.

     
    Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Grants For Single Moms