Tampilkan postingan dengan label Lingkungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lingkungan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Mei 2014

Kepada Siapa Kita Berbicara?

Image: dreamstime.com
Terkadang saat kita berbicara atau menyampaikan sesuatu kepada lawan bicara kita hanya ingin menjelaskan apa yang kita mau saja. Terkadang kita lupa bahwa apa yang kita bicarakan itu belum tentu yang bisa diterima oleh lawan bicara kita.

Bahkan, terkadang apa yang kita sampaikan dan kita bicarakan itu ternyata lebih pantas kalau ditujukan untuk diri kita sendiri.

Pernahkah kita mencoba memposisikan diri sebagai lawan bicara kita?

Seringkali kita mengalami adanya miss communication dengan siapa kita bicara, hal itu yang kemudian mengakibatkan proses komunikasi kita tidak bisa diterima dengan baik oleh pihak yang diajak bicara.

Pentingnya komunikasi adalah untuk menyampaikan apa yang kita maksud itu bisa diterima dan dimengerti supaya tujuan dari komunikasi itu menjadi lebih efektif.
bersambung...

Selasa, 01 Oktober 2013

Orang Yang Di Sisihmu Lebih Penting

Hal yang sering kita abaikan adalah ketika ada orang lain di samping kita, tetapi kita lebih sibuk dengan hal lain yang mungkin tidak ada hubungannya dengan orang yang di samping kita. Itu sering terjadi kadang tanpa kita sadari. Yang jauh terasa dekat, tetapi yang dekat tak terlihat.

Contoh yang sekarang ini sering terlihat adalah ketika kita sedang berkumpul bersama teman atau orang lain dalam satu tempat tetapi pandangan kita sibuk dengan gadget yang ditangan.

Dan yang lebih parah lagi adalah ketika kita sedang berkumpul dengan keluarga di rumah, tetapi malah sibuk dengan hape masing-masing.

Bukankah salah satu cara menghargai dan menghormati orang di sekeliling kita adalah dengan cara memberi anggapan bahwa orang yang berada di samping kita itu adalah yang terpenting? dalam istilah jawa 'nguwongke' atau memanusiakan.

Mungkin hal itu terlihat seperti permasalahan yang sepele.

Aku pernah membaca tulisan dari hasil diskusi dengan nara sumber Pdt. Dr. Paul Gunadi yang bertema "Belajar Menghargai Orang Lain". Dalam diskusi tersebut Sang Pendeta memberikan pandangan, orang-orang yang tidak bisa menghargai orang lain itu karena dia menetapkan standar kehidupan dirinya di awan.

"... Dia selalu menaruh standar yang tidak mungkin. Nah, kalau saja dia mau belajar memfokuskan pada yang kecil, orang ini berubah, orang ini berbuat baik, orang ini bisa memikirkan ini, ya turunlah, mendaratlah, menjejakkan kaki di bumi ini. Barulah dia bisa melihat perbuatan positif yang orang lain lakukan meskipun di mata dia itu kecil".

"... Orang-orang ini memang tidak bisa begitu masuk menyelami jiwa orang, hati orang dan mencoba melihatnya dari sisi hati orang itu. ... Dalam relasi yang renggang kita tidak berkesempatan belajar menyelami hati orang lain."

Aku setuju dengan pandangan beliau, jika kita menganggap yang disamping kita juga adalah masalah kecil, maka kita tidak akan pernah bisa menghargai orang lain. Begitu nggak sih?

Padahal kita paham, apabila kita sedang memiliki masalah atau mendapati musibah yang akan membatu kita pertama kali saat itu adalah orang terdekat dengan kita.

sumber:
http://www.telaga.org/audio/menghargai_orang_lain



Rabu, 19 Juni 2013

Juni Sebagai Bulannya Festival

Festival di Lapangan Monas
Kemeriahan setiap tahun dibulan Juni memang telah menjadi fenomena tersendiri, khususnya dalam ajang festival. Entah itu festival yang bersifat kedaerahan, nasional, maupun festival yang bertaraf internasional.

Seperti halnya kemeriahan yang ada di Jakarta demi menyambut HUT ke-486, telah digaungkan jauh-jauh hari, semenjak sebulan sebelum hari jadi Jakarta dengan diadakannya festival, seperti Pekan Raya Jakarta (PRJ), Pekan Produk Kreatif Daerah (PPKD) dan banyak lagi festival-festival lainnya yang mengisi kemeriahan ulang tahun Jakarta.

Festival di Jakarta ini pun menjadi pusat perhatian masyarakat Jakarta khususnya dan wilayah lain pada umumnya, bukan hanya itu bahkan juga menjadi sorotan dari negara-negara lain. Mereka pun ikut sibuk memberikan kontribusi yang luar biasa pada even yang digelar di bulan juni ini.

Sebenarnya, festival-festival yang biasa diadakan di bulan juni ini tidak hanya di Jakarta saja loh... Di daerah lain juga tak kalah meriah, walaupun tentunya festival itu dengan tema yang berbeda-beda. Entah karena kurang publikasi atau hal lain yang menjadi kendala, sehingga kemeriahan festival di daerah itu hanya bersifat lokal.

Sedang yang bertaraf Internasional seperti di Borobudur Magelang Jawa Tengah ada istilah BIF (Borobudur Internasional Festifal), di JX International Surabaya Jawa Timur ada juga Java Furniture Festival (JFF), di Bali juga ada Bali Arts Festival dan banyak festival yang bersifat Internasional yang sama-sama diadakan di bulan juni ini.

Berikut beberapa festival di Indonesia yang diadakan di bulan Juni:

- Jakarta, ada festival di PRJ Kemayoran, PPKD Monas, Festival Ondel-Ondel, Jakarta Night Festival dan rencananya masih akan ada banyak lagi festival lain untuk menyambut HUT Jakarta.
- Jawa Barat, ada Ethnic Food Festival dan festival seni budaya lainnya yang memperingati hari jadi Kota Bogor.
- Magelang - Jawa Tengah, dengan tema Visit Central Java, ada Borobudur International Festival (BIF) yang terdiri dari Pertunjukan Seni Budaya, Pertunjukan Orkestra Internasional, International Heritage Seminar, Borobudur Travel Mart & Expo dan masih banyak lagi.
- Solo - Jawa Tengah, ada Keraton Art Festival, Solo Kampung Art, Java Expo 2013 bertempat Pagelaran Keraton Kasunanan Surakarta, Solo Batik Carnival, dll.
- Surabaya - Jawa Timur, ada Festival Kuliner, Budaya dan banyak festival lain yang diadakan untuk memperingati hari jadi Surabaya yang jatuh di bulan Mei, tapi pelaksanaan festival bisa sampai bulan Juni.

Tapi, Indonesia ini kan sangat luas dan juga banyak kota-kota besar yang juga terkenal, lalu bagaimana dengan festival di wilayah lain di Indonesia? Dan festival-festival itu tidak harus selalu di bulan juni kan? Tapi kalau memang semua bisa diadakan di bulan juni, itu bisa menjadi luar biasa.

Beberapa festival lain yang diadakan selain di bulan Juni:

- Dieng Culture Festival (DCF) di Pegunungan Dieng Jawa Tengah.
- Banyu Nyale Festifal di Lombok.
- Bali Art Festival, Tango Bali Festival di Bali.
- Baliem Valley Festival di Irian Jaya Papua.
- Festival Danau Lut Tawar dan Festival Layang Tunang di Aceh.
- Medan Art Festival, Festival Raja-Raja Sumatera di Sumatera.
- Festival Budaya Dayak di Kalimantan
- Festival seni Budaya di Sulawesi.
- Festival Teluk Jailolo, Festival Gura Ici di Maluku.
- dan masih banyak lagi festival lainnya.

Semalam, 18 Juni 2013, saya sangat terkesan dengan uraian dan wacana dari Bapak Menteri Perdagangan, Gita Wirjaman, pada acara 'Economic Challenges' di MetroTV, yang berharap bisa ada even-even lokal dari ujung Sumatera sampai Papua yang dapat menarik perhatian dunia, agar Indonesia dapat menjadi tujuan wisata dunia yang akhirnya bisa menggerakan perekonomian bangsa.

Saya kira wacana itu bisa diwujudkan. Indonesia dengan berbagai ragam dan kekayan sumber daya yang luar biasa dapat menjadi mercusuar dunia. Tapi tentunya bila pemerintah dan rakyatnya bisa bersatu padu untuk serius membangun bangsa yang kokoh dan berbudaya.


ralat: penulisan Irian Jaya diubah menjadi Papua.


Senin, 03 Juni 2013

Bisnis Ikut-Ikutan, Sekedar Bertahan Hidup

Menarik dan penuh inspirasi bila kita memperhatikan tips-tips yang disampaikan oleh Mas Jaya Setiabudi salah seorang mentor pelatihan entrepreneur yang kondang dengan buku TEPOK-nya (The Power of Kepepet).

Seperti yang dituliskan di timeline facebook Jaya Yea kali ini, Mas J demikian panggilan akrabnya, membahas mengenai strategi dalam bisnis, berikut petikannya:

"STRATEGI"
"Memang awal kita bisnis untuk sekedar 'dapur ngepul', namun apakah kita akan puas sampai disitu?"
"Untuk sekedar bertahan hidup, ikuti tren bisnis"
"Untuk membuat lompatan finansial, ciptakan tren bisnis"
"Mundurlah sejenak, carilah ide di pameran-pameran, training-training. Carilah mentor yang bisa membuka 'cakra' kreatifitas Anda."

"Renungkan rumus ini:"
"RENAME - REPACKAGING - REPOSITIONING"

Demikian yang diajarkan Mas J mengenai 'strategi' dalam mengelola bisnis. Tak jarang jika kita perhatikan di lapangan dengan banyak jenis bisnis usaha yang menjamur di berbagai tempat tetapi usahanya tersebut masih sebatas ikut-ikutan (mengikuti tren bisnis), artinya hanya untuk sekedar bertahan hidup.

Memulai dan mengolah kreatifitas memang membutuhkan waktu, dalam bahasa yang sering kita dengar 'meraih sukses itu tidak instan' dan di Indonesia belum banyak yang dapat melakukan itu.

Seperti akhir-akhir ini pelaku bisnis di dunia hiburan juga melakukan tren yang sangat tidak kreatif. Para artis dengan usahanya yang ikut-ikutan membuat gosip-gosip murahan demi mendongkrak popularitas supaya ada job, kemudian bila sudah mulai redup pamornya akhirnya terjun ke dunia politik. Tapi, hal itu memang tidak bisa disalahkan, lah wong sekedar bertahan hidup.

Dan akhir-akhir ini pula, seperti kasus lain yang berdampak pada anakku yang mulai kecanduan membeli minuman es bubble, karena setiap hari bertemu dengan pedagang-pedagang es tersebut dan seolah setiap tikungan ada saja yang jualan. Hampir beberapa meter melangkah menemui itu-itu lagi.

Kayaknya usaha dagang es bubble ini memang sedang menjadi tren bisnis. Kira-kira usaha tersebut bisa bertahan berapa minggu lagi ya? Tapi sekali lagi, itu tidak bisa disalahkan, lah wong sekedar bertahan hidup.


 

Jumat, 17 Mei 2013

Menjunjung Langit

ilustrasi: bunglon beradaptasi
Sewaktu aku menyampaikan niat untuk menambah ornamen yang mencirikan budaya betawi pada bangunan rumahku, istri sempat bertanya, "Pa, kita kan orang jawa, kenapa harus ngikuti model betawi? kenapa nggak model seperti rumah jawa?"

Aku bilang, "Mama, pasti pernah denger istilah dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung, kan?" Kuperhatikan, istriku mencoba mengingat. "Nah, itu yang ingin kita terapkan, karena kita tinggal di Jakarta", lanjutku mencoba memberi penjelasan.

Coba kita perhatikan, bangunan-bangunan masjid yang dibuat oleh para wali sanga di tanah jawa, apakah seperti model masjid di tanah arab? Beda kan? Mengapa tidak membangun masjid seperti model masjid di arab? Hal itu karena dulu para wali sanga itu juga mengedepankan istilah dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Makanya perkembangan islam dahulu mudah diterima oleh masyarakat.

Ciri-ciri Masjid yang dibangun para wali pada umumnya, seperti Masjid Demak atau Masjid Sunan Gunung Jati bentuk bangunannya menyesuaikan tradisi masyarakat dan lingkungan sekitar, tidak selalu ada kubah masjid yang berbentuk setengah lingkaran diatas atap masjid seperti di tanah arab. Itu merupakan bentuk adaptasi dan memiliki tingkat toleransi yang tinggi.

Boleh saja kita mencirikan jati diri kita di tengah-tengah lingkungan atau masyarakat sekitar, asal itu tidak merugikan diri kita dan orang lain. Tetapi kalau beradaptasi dengan lingkungan itu lebih baik kenapa enggak? dan yang lebih penting adalah sesuatu yang kita lakukan bukan karena hanya meniru-niru atau ikut-ikutan saja tanpa tahu apa yang sebenarnya kita perbuat.




Kamis, 16 Mei 2013

Bentuk Ornamen Pada Rumah Betawi

Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (Jokowi) akan mewajibkan setiap bangunan yang ada di Jakarta untuk menonjolkan ornamen-ornamen yang mencirikan budaya betawi, lalu seperti apa sih ornamen betawi itu?

Jika dilihat dari rumah adat, kita mengenal ada tiga jenis rumah adat betawi, yaitu: Rumah Gudang, Rumah Bapang (Rumah Kebaya) dan Rumah Joglo. Nah, dari ketiga jenis rumah yang berbeda-beda itu sebenarnya apa yang menjadi persamaan pandangan bahwa itu merupakan rumah betawi?

Jawabannya adalah terletak pada ornamennya. Dari ketiga jenis rumah adat betawi, ada satu persamaan yang mencirikan bangunan itu sebagai rumah adat betawi, yaitu terletak pada ornamen lisplang gigi balang.

Jika diperhatikan dari bentuk lisplang gigi balang juga ada sedikit perbedaan walaupun tidak terlalu mencolok perbedaannya.

Berikut beberapa bentuk lisplang gigi balang yang terdapat pada rumah-rumah betawi:


Menurut beberapa budayawan betawi, lispang gigi balang yang terdiri dari bentuk segitiga dan bulatan itu memiliki makna kejujuran, keberanian, keuletan dan kesabaran.

Dan mungkin masih banyak lagi model dan bentuk lisplang yang mencirikan ornamen betawi, seperti: ornamen pucuk rembung, ornamen bunga cempaka, ornamen swastika (motif china) dll. Bagi yang bisa menambahkan silahkan dishare ya...


Selasa, 14 Mei 2013

Lagi-Lagi, Terlalu Berlebihan

ilustrasi: membaca berita masal/radarbengkulu.web.id
Di jaman sekarang ini, banyak orang seolah haus akan berita, entah itu tentang kejadian sehari-hari atau berita-berita lain yang ada disekelilingnya.

Ketika ada beberapa media yang memberikan informasi kepada pemerhati berita tetapi yang ditayangkan hanya itu-itu saja, ada yang sebagian orang bosan, muak atau bahkan kesal dengan berita yang mereka lihat. Tak jarang mereka juga menafsirkan kalau media yang memberitakan itu terlalu berlebihan. Tapi benarkah media yang berlebihan?

Seperti ketika beberapa media yang memberitakan tentang berita duka atas meninggalnya salah satu tokoh kondang yang disiarkan hampir sebulan penuh di televisi dan media lainnya. Sebagian orang yang merasa kehilangan tentu akan tetap setia menyaksikan berita-berita atau apapun yang berhubungan dengan tokoh tersebut. Tetapi, bagi pemirsa yang tidak merasa kehilangan dan menyikapinya biasa saja tentu bisa menjadi bosan dengan berita-berita yang ditayangkan.

Ketika aku dimintai pendapat soal berita-berita meninggalnya tokoh tersebut, aku bilang "Bila ada yang beranggapan miring kepada orang yang meninggal, mudah-mudahan yang meninggal itu berkurang dosanya. Tapi bila ada yang memuji berlebihan pada orang yang meninggal, sesungguhnya yang layak dipuji itu hanya Tuhan".

"Loh, kalau dengan medianya sendiri gimana tanggapannya Mas?" tanya temanku. "Ya, itu kan karena pemirsanya masih butuh", jawabku.

Media berita itu sebenarnya mencoba menyampaikan apa yang dibutuhkan dan diinginkan masyarakat, jika minat pemirsa masih tinggi tentu mereka akan mencari dan memberikan sesuatu yang lebih. Tetapi, jika kurang diminati pemirsa, tentu media juga tidak akan terus menerus menayangkannya. Artinya yang terlalu berlebihan itu siapa?

Memang, media pasti akan terus mencoba mengolah suatu berita dengan berbagai cara sehingga akan menarik dan diikuti pemirsanya, dan itupun tergantung kebutuhan dan keinginan masyarakat.

Mungkin juga banyak yang paham, kalau terlalu berlebihan itu bisa menjadi tidak baik. Tapi, terkadang hal seperti itu memang sulit dihindari, mungkin banyak yang menolak dan ada juga yang hanya menjadi bahan gumaman.

Jumat, 03 Mei 2013

Macet dan Haram

Menurut definisi, macet artinya tidak dapat bekerja atau berfungsi dengan baik, dapat juga diartikan tersendat atau terhenti.

Menurut Kamus Bahasa Indonesia: [a] (1) tidak dapat berfungsi dng baik (tt rem, mesin, dsb); sendat; serat: rem mobilnya --; (2) ki terhenti; tidak lancar: pembongkaran saluran air menyebabkan lalu lintas --; usahanya --; air leding sedang --

Dan kalau menurut obrolan sahabat setandan, macetnya lalu lintas dapat diuraikan dari kepanjangan katanya, yaitu: M-A-C-E-T.

M, Main serobot tidak peduli keadaan.
A, Asal jalan tidak tahu aturan.
C, Celah sedikit dipaksakan.
E, Etika terkadang diabaikan.
T, Tanda dan rambu dianggap papan iklan.

Macet di jalan juga dapat disebabkan oleh banyaknya jumlah kendaraan atau barang atau orang yang tidak sebanding dengan kapasitas jalan. Hal seperti itu dikarenakan terlalu berlebihan.

Sedangkan berlebihan itu sendiri, kata Pak Ustadz itu bisa menjadikan haram, tetapi apakah keadaan macet itu bisa dikatakan haram?

Mohon kalau hal ini tidak tepat, sudilah meluruskan agar mendapatkan pencerahan.




Kamis, 02 Mei 2013

Berfikir Seperti Anak Kecil

Setelah siang hari dibanjiri oleh pendemo dari kalangan buruh se-jabodetabek, sore sampai malam harinya, hujan lebat yang mengguyur Jakarta dan kota sekitarnya pun akhirnya membuat banjir lagi di berbagai titik wilayah di Jakarta. Tapi kali ini banjir air, hemm.. banjir di Jakarta ternyata macem-macem ya?

Ada Banjir Pendemo, Banjir Kendaraan, Banjir Air, dll yang semuanya bikin permasalahan baru yaitu membuat ke-ma-ce-tan.

Seolah persoalan banjir membanjiri ini memang menjadi hal biasa, atau mungkin banjirnya sudah merasa nyaman dan betah di Jakarta?!

Lalu bagaimana tanggapan warganya?
Berikut cuplikannya:





Mungkin Jakarta memang butuh pemikiran dari anak kecil, kalau orang yang merasa gede nggak mau mengerti lagi.




Kamis, 18 April 2013

Tak Percaya Takdir

Traffic Light Jalan Pemuda Rawamangun
Traffic Light Jl. Pemuda Rawamangun
Kemarin malam, aku telah membuat orang lain kesal, (maafkan ya..) awalnya aku hanya mencoba mengikuti aturan, tetapi mereka seolah tak mau mengerti, terpaksa aku sengaja cuekin. Aku bisa memahami orang-orang tersebut pasti sangat kesal padaku (sekali lagi, maaf).

Kejadiannya, ketika aku menghentikan sepeda motorku karena traffic light berwarna merah menyala, sesuai aturan aku berhenti dibelakang garis pembatas, dan orang dibelakangku mungkin sedang buru-buru atau ada kepentingan mendesak sehingga membunyikan klakson terus untuk memberi tahuku supaya aku lebih maju ke depan agar dia bisa jalan.

Awalnya, karena aku perhatikan memang terlihat sangat buru-buru, aku mencoba memiringkan sepeda motorku dengan tujuan agar dia bisa melewatiku. Ehh, ternyata setelah melewatiku dia berhenti di depanku. Aku pikir mau nerobos lampu merah ternyata cuma ingin nerobos garis pembatas dan zebra cross toh.. oalaaahhh.

Aku pun hanya geleng-geleng kepala saja, tapi ketika aku kembali pada posisiku, tiba-tiba aku dibuat kaget lagi, sepeda motor lain yang dibelakangku pun juga ikut-ikutan membunyikan klakson padaku. Lampu merah di Jalan Pemuda Rawamangun memang saat itu menyala lumayan lama, sekitar dua menit. Melihat kejadian yang pertama aku kecewa, akhirnya klakson di belakangku aku cuekin.

Aku berfikir, bagaimana jalanan di Jakarta akan lancar jika pengguna jalannya seperti itu? Apakah aku terlalu picik?

Tapi kalau mengingat *pesan salah satu sahabat setandan, aku kemudian mengelus dada. Kata sahabat, “jika kita tidak mengikuti aturan lalu lintas di jalan, itu sama saja tak percaya takdir”.

TAK PERCAYCA TAKDIR!!!, maksudnya apa hayooo??


 *pesan: dari Mas Tambi Septono



Jumat, 14 Desember 2012

Kajenge Wong Lare (bag.2)

aksi demo para kades, foto: detik.com
MIRIS! aku mengelus dada pun masih belum bisa meredakan geregetan yang aku rasakan. Sampai aku harus tepok jidat berkali-kali karena mendengar dan membaca berita tentang aksi demo perangkat desa dan kades di depan gedung DPR yang dilakukan dengan tindakan yang anarkis pagi ini, 14/12/2012.

Caranya itu sungguh NGGAK PANTAS! masih lebih baik cara yang dilakukan anakku ketika sedang meminta sesuatu, walaupun kadang belum tentu aku turuti. Sudah! cukup itu saja komentarku.

Senin, 29 Oktober 2012

Putus Asa Akut

Ketika ada orang yang bermaksud baik malah dibilang sok baik
Ketika ada seorang pemimpin yang menunjukan simpati malah dibilang pencitraan
Ketika ada seorang pemimpin yang berempati malah dibilang lebay atau berlebihan
Ketika yang benar dijadikan samar-samar dan yang salah menjadi hal lumrah
Ketika pemikiran kaum ablasa telah menjadi acuan, yang keliru tidak mau diingatkan
Adakah yang merasa resah dengan keadaan lingkungan sosial yang seperti itu?

Rabu, 26 September 2012

Perempuan Lebih Mudah Kesurupan

Ada pertanyaan menarik saat saya dan kawan-kawan sedang ngobrol dan berkumpul di basecamp setandanpisang. Kenapa masih ada kesurupan masal? Kenapa yang kesurupan kebanyakan kaum perempuan? Dan kenapa kesurupan ini sering terjadi di sekolah-sekolah?

Di jaman sekarang ini, dimana kebanyakan orang berfikir rasional dan lebih mengutamakan logikanya masing-masing. Ketika ada kasus, seperti; kesurupan, tentu menjadi sangat beragam dalam menanggapinya.

Kenapa bisa kesurupan secara masal dan kenapa lebih sering terjadi pada kaum perempuan?
Kalau dari dua pertanyaan ini mungkin bisa dianalisa dan diambil suatu kesimpulan, karena kaum perempuan memang lebih mudah dalam mempengaruhi atau mengikat orang lain atau benda yang ada disekelilingnya, ketimbang laki-laki. Selain itu perempuan memiliki saraf penghubung antara otak kanan dan kiri yang lebih banyak dan sama besar, sehingga bagi perempuan yang kurang terlatih terkadang akan kesulitan untuk membedakan mana yang logis dan mana yang khayal, hal inilah yang membuat perempuan juga mudah dipengaruhi.

Tetapi mengapa sering terjadi di sekolah-sekolah? 
Kalau alasannya tempatnya menyeramkan, bukankah lebih banyak tempat yang lebih menyeramkan dari pada sekolahan, atau mungkin yang menyeramkan itu adalah guru-guru yang dianggap killer.

Sekolah merupakan salah satu tempat yang bukan hanya untuk mengasah otak namun juga untuk mengasah jiwa dan mental siswa. Apabila suasana di lingkungan sekolah kurang baik, maka bisa mempengaruhi perkembangan mental dan jiwa siswanya.

“Kalau tempat seperti sekolahan, yang dalam sehari lebih banyak waktu dimana kelas atau sekolah itu kosong dari pada proses belajar mengajarnya, itu menjadi kurang baik, karena suasana kelas atau sekolah menjadi dingin”, kata salah satu sahabat setandan sewaktu menjelaskan kenapa justru sering terjadi kesurupan di sekolah. “Coba bandingkan, bila kita memasuki lingkungan yang jarang dihuni dengan yang selalu dihuni sudah tentu suasananya berbeda, tempat yang selalu dihuni memiliki suasana yang hangat. Dan di sekolahan membutuhkan suasana yang hangat”, lanjutnya.

Tapi saya kira bukan karena alasan itu sehingga pemerintah akan manambah waktu atau jam pelajaran di sekolah-sekolah kan? Hihihi…


Jumat, 21 September 2012

Jajanan di Sekolah

Malam itu anakku menangis tidak seperti biasanya, merintih sambil tangannya terus memegangi pipi. Anakku sakit gigi, ada lubang di gigi gerahamnya yang menyebabkan badannya panas, ditambah juga tenggorokannya sakit dengan amandel yang membengkak.

Melihat hal itu, segera aku carikan obat untuk mengurangi rasa sakit yang sedang dideritanya.

Aku sempat terkejut, selama ini aku selalu rewel pada anakku supaya mengurangi jajan dan menggosok gigi setiap kali sehabis memakan jajanan, seperti; permen, coklat, es krim dan makanan ringan lainnya yang suka dibeli dari pedagang yang sering keliling lewat depan rumah. Tapi kalau beli jajanannya di sekolah?

Ya, kalau beli jajanannya di sekolah memang kami kurang bisa control. Terkadang aku juga jengkel kalau melihat ada pedagang jajanan untuk anak-anak yang tidak memperhatikan kadar gizi atau nutrisi pada makanan yang dijualnya. Jajanan seperti itu masih banyak dijumpai di kantin sekolah.

Berbeda sewaktu aku dulu sekolah SD, cukup dengan uang 25 (dua puluh lima) rupiah saja aku sudah bisa mendapatkan 2 bakwan plus satu lontong, yang jelas itu makanan yang sehat. Sangat jauh memang bila dibandingkan dengan nilai uang dan mutu jajanan sekarang ini.

Aku sedang browsing tentang jajanan yang baik untuk anak-anak ketika kemudian menemukan berita tentang adanya program “Chef goes to school”. Program yang dikembangkan oleh Philips dari ide-ide orang tua yang khawatir soal makanan dan minuman yang biasa  dibeli di sekolah.

Program yang dilahirkan dari ide Bunga Sirait, pemenang The ‘+’ Project untuk kategori hidup sehat, sedang merealisasikan dalam bentuk pelatihan gizi dan memasak di sekolah-sekolah. "Banyak orang tua, termasuk saya, sering khawatir tentang makanan dan minuman yang bisa dan biasa dibeli di sekolah, saya berpendapat bahwa program yang mendorong penyediaan  makanan bergizi perlu diadakan di sekolah" kata Bunga.

Aku tentu menyambut gembira dengan adanya program itu, semoga nanti di sekolah anakku juga diadakan pelatihan itu.




Rabu, 29 Agustus 2012

Cahaya Monas Berwarna-warni

Bagi warga DKI Jakarta yang kebetulan melintasi jalan sekitar Tugu Monas pada malam hari, pasti penasaran karena melihat cahaya warna warni yang terpancar dari Tugu Monumen Nasional.

Pencahayaan yang berbeda dari biasanya itu dapat dilihat mulai malam tanggal 1 Agustus 2012 sampai kurang lebih 3 bulan kedepan.

Nah, kalau ada yang pernah melihat Monas malam hari, tentunya jadi penasaran kan?! sebenarnya sinar apa dan dari manakah itu?

Cahaya warna warni yang terlihat dari Monas itu ternyata dari sinar lampu LED (Light Emitting Diode) yang dipendarkan dan dinyalakan oleh pemerintah kota DKI Jakarta yang disponsori oleh lampu hemat energi PHILIPS LED.

Royal Philips Electronics berkolaburasi dengan Pemkot DKI meluncurkan program "Kota Terang Hemat Energi" yang ditandai dengan penyalaan landmark ternama di Jakarta, yaitu Tugu Monas dengan sistem pencahayaan terkini yang mutakhir dan berkelanjutan dari lampu Philips LED.

"Philips ingin mengajak masyarakat Jakarta dan seluruh lapisan masyarakat lainnya di Indonesia untuk lebih mencintai kota tempat mereka tinggal dengan mengetahui lebih lanjut berbagai kemungkinan dan manfaat dari penggunaan solusi pencahayaan berbasis LED" ujar Robert Fletcher, President Director, PT Philips Indonesia.


Dengan menggunakan lampu LED memungkinkan untuk melakukan pengendalian dan fokus cahaya dari segi arah dan efek yang diinginkan. Sistem pencahayaan baru tersebut membuat Monas bisa dilihat dari sudut manapun di Jakarta.

"Membuat Tugu Monas bersinar di malam hari dengan solusi pencahayaan dari Philips merupakan impian bagi kami. Solusi teknologi LED ini dapat mencapai level dan desain tepat untuk bangunan Monas, sekaligus mempertahankan identitas asli bangunan tersebut sebagai simbol sejarah kota Jakarta," jelas Ryan Tirta Yudhistira, Senior Marketing Manager Lighting Philips Indonesia.


Persembahan dari Philips bagi kota Jakarta dengan menyalakan lampu LED pada Monas dikala malam hari, merupakan salah satu contoh kongkrit akan kemampuan lampu LED dalam memperindah kota dengan pencahayaan yang dapat diatur sesuai efek yang diinginkan.

Pembukaan atau penyalaan lampu LED di Monas oleh Gubernur DKI Jakarta di dampingi juga Duta Besar Belanda dilakukan pada rabu malam tanggal 1 Agustus 2012, selain itu juga diramaikan dengan berbagai event lainnya, seperti perlombaan yang berhadiah bermacam-macam produk dari Philips dan hadiah utama Mobil Honda Freed.

Dan yang menarik adalah lomba memegang lampu philips supaya tetap dalam keadaan menyala, hal ini membuktikan bahwa lampu philips berbeda dengan lampu lain, karena lampu philips tahan panas, sehingga walaupun dipegang dalam waktu yang lama dengan kondisi menyala, tetapi tidak membuat pemegang lampu LED philips merasakan kepanasan.



PT Philips Indonesia adalah salah satu cabang dari Royal Philips Electronics di Belanda dan merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang kesehatan, gaya hidup dan solusi pencahayaan.

Sebagai bentuk kepedulian pada masyarakat Indonesia, kedepannya Pilips akan terus mengembangkan teknologi pencahayaan yang hemat energi, hemat biaya, lebih tahan lama dan ramah lingkungan, seperti halnya Philips LED yang mampu bertahan hingga 15 tahun usia pemakaian.

Kembali pada cahaya warna-warni Monas ternyata fenomena Kota Terang Hemat Energi ini bukan hanya di Monas Jakarta saja loh yang sudah diterangi oleh lampu Philips, sebelumnya sudah pernah juga di Jembatan Suramadu, Monumen Pancasila Surabaya, Air Mancur di Palembang, Tugu Yogyakarta dan tempat-tempat lain di beberapa kota di Indonesia.

"Melalui Kota Terang Hemat Energi, Philips mentransformasi lingkungan berbagai sektor, baik itu perumahan, perkantoran maupun industri, melalui pencahayaan tersebut, Philips ingin membantu meningkatkan kualitas hidup masyarakat yang lebih maju." demikian yang disampaikan Robert Fletcher.

 

Jumat, 27 Juli 2012

Kajenge Wong Lare (Biarlah Masih Anak-anak)

gambar: razia tempe dan tahu
Ada suatu cerita, seorang anak meminta dibelikan mainan baru, karena mainan lamanya sudah usang. Kepada orang tuanya, dia meminta dengan merengek dan memaksa bahkan mengancam dengan cara menghancurkan mainan lamanya, supaya digantikan dengan mainan yang baru.

Bagaimana menurutmu?

Sebagian yang lain tentu ada yang iba kepada sang anak, sebagian yang lain ada yang simpati dengan orang tuanya. Namun ada juga yang berfikir dan menanggapi "kajenge wong lare, sing rumongso tuo ngalah" (Biarlah masih anak-anak, orang tua yang mestinya mengalah).

Maksud kajenge wong lare adalah memaklumi keadaan, sikap dan mental anak-anak yang belum memiliki pemikiran dewasa.

Lalu bagaimana dengan demo-demo yang menuntut suatu perubahan dengan cara menghancurkan, merobohkan, membakar dan melakukan hal yang anarkis lainnya? Dengan kata lain, mencoba memberi penekanan agar tuntutannya dikabulkan. Tapi kadang sikapnya justru merugikan diri sendiri dan orang lain.

Dan memang kenyataan sekarang ini, tidak hanya anak-anak yang berkelakuan seperti itu, orangnya mungkin sudah tua-tua tapi sikapnya kekanak-kanakan.

Lalu sebaiknya gimana?

Selasa, 10 April 2012

Beda Zaman

"Papaa.. Owin mau mainan yang itu!" teriak anakku, sambil menarik lenganku dan menunjukan permainan yang ingin dicobanya. "Nduk, berani?"* tanyaku. Dia mengangguk dan meyakinkanku, kalau dia bisa melakukan permainan itu.

Dia perempuan, berumur 3 tahun, ingin mencoba menaiki skuter dengan pedal yang digenjot, otoped. Permainan yang memang cocok dan selayaknya dimainkan oleh anak seumurannya, namun sebagai orang tua terkadang memiliki kekhawatiran berlebih apabila anaknya mencoba hal baru baginya atau hal yang belum pernah kita alami sebelumnya.

Orang tua juga terkadang teriak-teriak karena ngeri melihat anak-anaknya bermain, tapi mereka malah enjoy. Rasa khawatir itu terjadi karena kita berada pada zaman yang berbeda. Dulu, permainan yang biasa dilakukan paling cuma mainan kelereng, petak umpet, mobil-mobilan yang terbuat dari bambu dan hal semacamnya, tentu berbeda dengan semakin banyaknya jenis permainan yang sekarang ada.

Apa-apa yang dilakukan oleh anak-anak, belum tentu kita sebagai orang tuanya bisa melakukannya juga, terkadang orang tua berusaha menjaga agar anaknya tidak jatuh dan terluka pada saat bermain, tapi mereka sebenarnya paham atas dunianya. Dunia anak-anak, dunia bermain. Dengan memberikan kebebasan dan kepercayaan tentu akan membuat anak menemui pelajaran dan pengalaman barunya.

Semangat anak-anak ketika sedang mencoba melakukan permainan yang baru, dia akan berusaha menunjukan kepada orang tuanya, kalau dia bisa. Hal seperti itu, saya yakin orang tua tidak perlu melarang anak-anaknya bermain atau melakukan permainan yang belum pernah dilakukan, karena itu hanya akan melemahkan mental sang anak. 


*Nduk : sebutan atau panggilan untuk anak perempuan (Jawa)

Jumat, 09 Desember 2011

Go Green, Menghijaukan Kampungku

Program penghijauan atau yang dikenal dengan istilah Go Green, memang terus digalakan dimana-mana, begitu juga yang terjadi di kampungku.

Setiap halaman rumah di Kampung Petukangan Rawa Terate Jakarta Timur, dihiasi tanaman dari beragam tumbuh-tumbuhan, jalanan terlihat bersih karena di depan masing-masing rumah disediakan dua bak sampah untuk menampung sampah organik dan non organik yang dipisahkan penempatannya.

Ada sesuatu yang unik menurutku, yaitu melihat rumah-rumah penduduk yang hampir semua dinding temboknya dicat dengan warna hijau. Sebelumnya akupun merasa heran dan geli ketika diminta untuk mengikuti aksi penghijauan dengan cara mengecat setiap rumah dikampung itu dengan warna hijau, namun melihat penduduk di kampung itu dalam menanggapi program Go Green begitu antusias akhirnya kamipun dengan senang hati mengikuti program yang disponsori oleh salah satu LSM yang telah membagikan cat secara cuma-cuma.

bergotong royong mengecat rumah warga

antusias warga menanggapi program go green

dari orang tua sampai anak-anak ikut berpartisipasi

bangku dan kaosnya juga hijau :D

inilah potret kampung hijau di wilayah Jakarta Timur

Kamis, 22 September 2011

Jaka Tingkir Dari Jawa Barat

Kebanyakan orang di Indonesia mengenal Jaka atau Joko Tingkir dengan gelar Sultan Hadiwijaya, sebagai raja pertama Kerajaan Pajang yang berasal dari desa Tingkir, salah satu nama desa di wilayah Salatiga, Jawa Tengah. Namun ada juga cerita Joko Tingkir yang berasal dari Jawa Barat, lalu bagaimana kisahnya?



Ketenaran Jaka Tingkir dikenal pula sebagai penakluk buaya, sehingga di salah satu taman wisata di Bekasi, yaitu Taman Buaya Indonesia Jaya, disini para pawang binatang buas itu menunjukan kebolehannya bergelut dengan buaya-buaya yang kemudian dikenal dengan Atraksi Joko Tingkir.

Bergulat dengan binatang buas apalagi buaya memang butuh keahlian khusus yang perlu dilatih, demi menghibur para wisatawan yang berkunjung ke Taman Buaya ini, pengelola tempat wisata itu menyuguhkan tontonan yang menarik setiap hari minggu di Arena Atraksi Joko Tingkir.


Taman buaya Indonesia Jaya yang juga merupakan tempat penangkaran buaya terbesar di Asia tersebut berada di Jalan Raya Cibarusah – Serang, Cikarang, Bekasi, Jawa Barat. Memiliki koleksi lebih dari 500 ekor buaya dari berbagi wilayah di Indonesia.

Kamis, 18 Agustus 2011

Status Facebook Sahabat

Terkadang aku tertawa geli dan suka senyum-senyum sendiri kalau sedang melihat timeline facebook teman-temanku. Ada yang sedang galau dan pusing dengan pekerjaannya, ada yang sedih karena ditinggalin pacarnya, ada yang gembira karena dapat gebetan baru dan masih buanyak lagi hal-hal yang menurut mereka perlu dishare di halaman facebook nya.

Boleh-boleh saja sih dan tak ada yang melarang kita mau tulis apa saja di timeline facebook kita yang penting nggak ngacak-ngacak timeline orang lain.

Tapi, kadang aku jadi sebel kalau melihat ada yang berantem di timeline facebook dengan tulisan-tulisan yang nggak pantes tapi dishare. Harus kita pahami bahwa facebook atau aplikasi sejenisnya itu merupakan jejaring sosial atau dalam bahasa lain social network, jadi yang namanya sosial itu seperti apa?

Melek teknologi itu nggak sekedar kita bisa buka dan pakai, tapi juga mesti tahu dan melek fungsi dari teknologi tersebut.

Nah, dari beberapa isi timeline facebook teman-teman, ada nih yang membuat aku tertarik untuk membacanya. Berisi puisi kegalauan sahabat pada lingkungan sekitarnya ini membuatku senyum-senyum sendiri loh... menurutmu?




Kehadiran Cinta (18-08-2011 at 02:05am)
Cinta tak kan pernah pudar
Cinta akan selalu ada dimana-mana
Cinta sama arti dengan ihlas
Karena cinta hadir dengan apa adanya



Deru Jalanan (18-08-2011 at 02:24am)
Kesedihan menghiasi pinggiran jalan
Bersahabat dengan debu, panas dan dingin
Hanya demi suapan tawa dan canda
Namun banyak yang tak sadar akan banyak membutuhkan pelukan
Kemanakah kepeduliannya?


Nikmat dan Dosa  (18-08-2011 at 02:29am)
Jeritan akan kenikmatan selalu ada
Rela melepas hanya demi cinta
Tak sadar akan terjerumus hidupnya
Walau diatas kenikmatan tapi tak jauh dari dosa


dikutip dari status facebook Sahabat Setandan: http://facebook.com/satyaajikrisnanto

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Grants For Single Moms