Tampilkan postingan dengan label True Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label True Story. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Agustus 2014

Ramahnya Relawan PMI Saat Mudik Lebaran

ilustrasi relawan PMI
Perjalananku mudik saat menjelang lebaran tahun ini tidak seperti yang kebanyakan orang keluhkan dengan terjebak macet yang katanya sampai berjam-jam.

Jalanan tidak sepadat hari sebelumnya, mungkin karena aku baru memulai perjalanan mudik disaat malam takbir atau H-1, jadi perjalananku tanpa harus ikut bermacet ria.

Perjalanan malam hari dengan menggunakan sepeda motor memang butuh persiapan fisik dan mental yang kuat. Beberapa kali aku berhenti untuk meng-istirahatkan badanku juga motor matic ku yang tak bisa tahan lama untuk digeber terus menerus. Setiap 1 sampai 2 jam sekali aku berhenti istirahat untuk mengisi bahan bakar tubuhku maupun sepeda motor yang aku kendarai.

Aku berhenti di beberapa tempat peristirahatan atau posko mudik lebaran yang memang telah disediakan. Ada banyak posko-posko mudik yang disediakan oleh beberapa instansi pemerintah maupun swasta yang turut meramaikan dan melayani para pemudik sepanjang perjalanan.

Dan yang paling aku nikmati adalah posko mudik yang disediakan oleh Palang Merah Indonesia (PMI). Tepatnya di kota Pekalongan, saat waktu subuh tiba aku sudah mulai memasuki kota tersebut. Aku memutuskan untuk istirahat setelah melihat ada spanduk besar berlambang PMI (hemm.. sayang aku gak bisa berfoto ria saat itu).

Layanan kesehatan gratis, tempat tidur, makan dan minum gratis, bisa ngopi sepuasnya dan layanan lain yang sangat bermanfaat ketika kita lelah dalam perjalanan. Selain itu ada juga ambulance yang siaga selama 24 jam.

Setelah ngobrol-ngobrol dengan para relawan, aku pun menyempatkan untuk merebahkan badan untuk memulihkan kondisi fisik.

Sekitar 2 jam aku terlelap di Posko PMI Pekalongan, ketika terbangun aku ditawari kopi hangat oleh para relawan PMI yang begitu ramah melayani tanpa kepalsuan. Hemm... bagi penyuka kopi sepertiku ini benar-benar pelayanan yang menyenangkan.

Tak ada keluhan dari para relawan tersebut dalam melayani para pemudik yang beristirahat di tempat tersebut dan para pemudik pun demikian. Hal itu terlihat dari banyaknya pesan dan kesan positif yang tertulis di buku tamu yang disediakan pihak PMI.

Setiap yang beristirahat dikasih cendera mata dengan simbol PMI yang juga tak sempat aku photo.

Terima kasih Palang Merah Indonesia, SELAMAT LEBARAN ya...

Minggu, 22 September 2013

[Puisi] Yang Pernah Terlupakan

Mungkin awalnya aku yang mencarimu,
Mungkin awalnya kamu yang mencariku,
Karena tanpa sadar kita telah menunggu lama,
Karena tanpa sadar kita telah mengenal sebelumnya.

Ketika waktu menjawab, kita dalam keadaan bimbang,
Ketika waktu menjawab, kita dalam keadaan ragu,
Karena kita memandang masa yang akan datang,
Karena kita memandang masa yang telah lalu,

Kemudian langkah itu perlahan mulai menapak,
Kemudian langkah itu terus maju merangkak,
Jalan pun nyata terbuka dan terarah,
Jalan pun nyata dan yakin tak salah,

Seolah ada yang mengarahkan,
Seolah ada yang memudahkan,
Jalan pun terlihat semakin terang,
Jalan pun terlihat semakin lapang,

Walau kerikil-kerikil kecil membuat kaki terasa pegal,
Walau rambu-rambu kadang sulit dipahami,
Tapi itu tak membuat kita terjegal,
Tapi itu kita anggap hiasan cerita yang alami.

bersambung...

Sabtu, 18 Mei 2013

Penyuka Kopi Yang Tak Suka Terasi

ilustrasi: nyeruput ngopi
Aku suka kopi tapi tak suka terasi, setidaknya itu yang aku tulis di profil akun twitterku, hubungan kopi sama terasi apa ya? Nggak nyambung? Memang...

Tapi buatku ada sedikit persamaan, kalau suka kopi aku sudah dari kecil, sedangkan tak suka terasi ...? sama dari kecil juga.

Bedanya, aku paling suka kopi buatan Ibu ku juga seduhan istri ku, sedangkan terasi aku tetap nggak suka biarpun yang masak Ibu atau istriku.

Kata orang tua ku dulu, sewaktu kecil aku sudah sering di kasih minum kopi, itu sebabnya dulu juga katanya kalau aku sedang demam tinggi aku nggak sampai kejang-kejang atau step. Ini mitos atau memang benar ya?

Untuk membuktikannya, aku pun melakukan hal yang sama, aku sering kasih minum kopi anak-anakku, tapi nggak banyak-banyak.

Dan pernah suatu hari anakku yang pertama demam tinggi sampai lebih dari 40 ºC, dengan kondisi panas seperti itu anakku memang tidak kejang-kejang dan hebatnya lagi, dia masih sanggup berjalan kaki ketika aku ajak ke Rumah Sakit untuk diperiksa keadaannya. Apa itu karena ada pengaruh dari kopi? Mungkin karena sugesti. Eh, tapi ngasih kopi nya bukan sewaktu panas tinggi loh!

Nah, kalau soal terasi aku nggak pernah diceritain sama ortu ku, cuma pernah sewaktu tak sengaja aku makan dengan sambal terasi, tiba-tiba aku alergi dan gatal-gatal pada kulitku, mungkin itu yang membuatku akhirnya tidak suka terasi.

Aku percaya, apapun makanan dan minuman yang kita konsumsi tentu ada manfaat dan mudarat nya. Jika bermanfaat buat tubuh tentu tidak menjadi penyakit, tapi jika menjadi mudarat sebaiknya memang dijauhi, apalagi berlebihan.

Senin, 13 Mei 2013

Masalah Dengan Nama Belakang (Last Name)

Sebenarnya ini merupakan kelanjutan dari posting dengan judul "Arti Sebuah Nama" yang kalau dilanjutkan menjadi bagian ketiga (bag.3). Tetapi berhubung ada suatu kejadian yang menurutku menjadi masalah baru, jadi aku ganti judulnya.

Hampir mirip dengan posting bagian kedua [lihat: Arti Sebuah Nama (bag.2)], yaitu ketika dulu aku ditegur oleh beberapa kerabat sewaktu memberi nama pada anak-anakku. Selain karena nama anakku menggunakan nama jawa dan sedikit tambahan dari bahasa sansekerta, aku juga pernah ditegur soal nama anak yang menurut mereka terlalu panjang dan mereka beranggapan kalau namanya terlalu panjang akan menjadi beban kepada anak itu. Benarkah?

Kedua anakku kuberi nama dengan tiga kata, ada nama depan (first name), nama tengah (middle name) dan nama belakang (last name).

Memang, di Jawa pada umumnya tidak terlalu mempermasalahkan dengan perlu atau tidaknya nama belakang, banyak nama jawa yang hanya terdiri dari satu kata (nama tunggal). Seperti nama kecilku yang tertera di Akte Kelahiran dan KTP hanya nama 'Sutrisno' saja. Dan baru setelah aku menikah kemudian ada tambahan 'Aji' sebagai nama belakang, menjadi Sutrisno Aji. Tetapi, nama itupun tidak ditambahkan pada waktu pembuatan KTP yang baru.

Nah, kejadian beberapa hari kemarin telah membuka sedikit wawasanku, tentang perlunya nama belakang. Ketika itu aku menuliskan identitas diri pada saat aku mendaftar akun salah satu aplikasi di internet. Memang hampir setiap pengisian data untuk name pada aplikasi buatan luar negeri ada nama depan, nama tengah (jika ada) dan nama belakang yang wajib diisi.

Seperti biasa aku menulis nama 'Sutrisno' sebagai nama depan dan 'Aji' sebagai nama belakang. Pendaftaran berjalan mulus, namun ketika aku harus mengisi nama yang tercatat di rekening bank, disitulah awal terjadinya masalah.

Nama yang tercatat pada rekening bank tentu saja hanya 'Sutrisno' atau sesuai dengan nama di KTP, sedangkan nama yang terdaftar pada akun tersebut Sutrisno Aji. Dan masalahnya adalah apabila nama rekening bank berbeda dengan nama yang terdaftar di akun maka proses transaksi yang berhubungan dengan perbankan nanti dapat mengalami kendala. Duh..!!!

Memang sih, masalah seperti itu tetap bisa diproses dan terselesaikan dengan 'catatan', tapi membutuhkan langkah-langkah yang menurutku terlalu ribet.

Disitulah kemudian aku berfikir, ternyata nama belakang itu bisa menjadi sangat penting. Tidak hanya itu, rupanya masalah nama tunggal juga bisa menjadi masalah sendiri jika kita pergi keluar negeri loh... Karena ada beberapa negara yang mengharuskan nama belakang (last name) tercetak pada passport dan visa, bahkan ada yang harus ditambahan nama tengah (middle name).

contoh penulisan nama pada visa

Salah satu contoh adalah ketika ada sahabat setandan hendak pergi umroh dan mengurus passport untuk keberangkatan ke Arab Saudi, karena nama sahabat setandan itu hanya memiliki nama tunggal sehingga harus menambahkan nama orang tua dan kakeknya sebagai nama tengah dan nama belakang. Dengan alasan untuk dapat pergi ke tanah suci harus menggunakan passport dan visa dengan tiga kata pada nama. Hemm...

Melihat kasus diatas, aku akhirnya lega dan tak perlu berdebat dengan orang lain ketika ada yang menegur, nama anak kamu kepanjangan tuh!. Biarin saja...

Suatu saat mereka akan tahu sendiri penting atau tidaknya sebuah nama.

Kamis, 18 April 2013

Tak Percaya Takdir

Traffic Light Jalan Pemuda Rawamangun
Traffic Light Jl. Pemuda Rawamangun
Kemarin malam, aku telah membuat orang lain kesal, (maafkan ya..) awalnya aku hanya mencoba mengikuti aturan, tetapi mereka seolah tak mau mengerti, terpaksa aku sengaja cuekin. Aku bisa memahami orang-orang tersebut pasti sangat kesal padaku (sekali lagi, maaf).

Kejadiannya, ketika aku menghentikan sepeda motorku karena traffic light berwarna merah menyala, sesuai aturan aku berhenti dibelakang garis pembatas, dan orang dibelakangku mungkin sedang buru-buru atau ada kepentingan mendesak sehingga membunyikan klakson terus untuk memberi tahuku supaya aku lebih maju ke depan agar dia bisa jalan.

Awalnya, karena aku perhatikan memang terlihat sangat buru-buru, aku mencoba memiringkan sepeda motorku dengan tujuan agar dia bisa melewatiku. Ehh, ternyata setelah melewatiku dia berhenti di depanku. Aku pikir mau nerobos lampu merah ternyata cuma ingin nerobos garis pembatas dan zebra cross toh.. oalaaahhh.

Aku pun hanya geleng-geleng kepala saja, tapi ketika aku kembali pada posisiku, tiba-tiba aku dibuat kaget lagi, sepeda motor lain yang dibelakangku pun juga ikut-ikutan membunyikan klakson padaku. Lampu merah di Jalan Pemuda Rawamangun memang saat itu menyala lumayan lama, sekitar dua menit. Melihat kejadian yang pertama aku kecewa, akhirnya klakson di belakangku aku cuekin.

Aku berfikir, bagaimana jalanan di Jakarta akan lancar jika pengguna jalannya seperti itu? Apakah aku terlalu picik?

Tapi kalau mengingat *pesan salah satu sahabat setandan, aku kemudian mengelus dada. Kata sahabat, “jika kita tidak mengikuti aturan lalu lintas di jalan, itu sama saja tak percaya takdir”.

TAK PERCAYCA TAKDIR!!!, maksudnya apa hayooo??


 *pesan: dari Mas Tambi Septono



Jumat, 21 Desember 2012

Nanti Ada Yang Marah?

Belum lama ini aku menulis status di Facebook tentang hal-hal yang pernah dialami oleh para pria ketika sedang jalan (kencan) dengan teman wanita.

Aku tulis begini:


Maaf, user facebook dalam komentar sengaja aku samarkan demi menjaga privasi.

Berbagai komentar yang masuk, ada yang pernah mengalami hal serupa, ada juga yang belum pernah mengalami atau malah mungkin belum pernah jalan sama wanita, ehemm..

Nah, ternyata dari jawaban-jawaban yang ada di komentar itu sangat beragam, ada yang jujur ada yang hanya becandaan, ada juga yang sepertinya sudah pengalaman dengan wanita, emm.. sorry atau mungkin bisa dibilang Playboy (buat yang merasa, aku nulis ini saja sambil cengar-cengir sendiri loh hihihi..)

Dari banyaknya komentar itu dapat diambil kesimpulan:
  • Hampir setiap wanita akan menanyakan hal itu demi menjaga hubungan yang baik. 
  • Sebagian pria akan menanggapi, bahwa pertanyaan itu merupakan rambu-rambu dalam menentukan langkah selanjutnya.
Sedikit bocoran buat kaum wanita, dari jawaban-jawaban pria ketika kamu menanyakan hal itu, sebenarnya dapat diambil kesimpulan, seperti apa karakter pria itu dalam menjalani hubungan.

Dan buat para pria, ayoo.. tunjukin kalau kalian adalah Lelaki yang istimewa!

Ehemm…

Rabu, 05 Desember 2012

Kenapa Saya Tidak Bilang "YA"

Ilustrasi menerima telpon gelap. Gambar: SoloPos
Melihat berita di televisi semalam, saya sempat terkejut. Ternyata masih ada dan bahkan tidak sedikit orang yang telah menjadi korban penipuan berkedok investasi dari Solid Gold Berjangka, tepatnya di wilayah Makassar Sulawesi Selatan dimana berita itu berasal.

Berita tentang nasabah yang mengamuk untuk menuntut ganti rugi di salah satu cabang perusahaan di Makassar itu mengingatkan saya pada pegawai Solid Gold Berjangka Jakarta yang waktu itu menelepon saya. Dengan memberikan penjelasan-penjelasan yang sangat meyakinkan dan sesekali memberikan pertanyaan kepada saya, apakah bersedia mengikuti program yang ditawarkan.

Sekitar setahun yang lalu, saya pun bisa saja mengalami kejadian serupa, kalau saja saya tidak cepat mencari tahu tentang profil perusahaan tersebut, ketika salah satu pegawai dari perusahaan itu menelepon saya untuk menawarkan program investasi.

Waktu itu saya sedang berada di depan komputer ketika seorang pegawai perusahaan Solid Gold Berjangka menghubungi saya. Kecurigaan pun muncul karena beberapa kali si penelpon memberikan pertanyaan dan penjelasan berulang-ulang kepada saya dengan pertanyaan dan penjelasan yang sama dan hanya saya jawab dengan kata-kata “he..hemm” dan tidak menggunakan kata “iya” atau “tidak”. Saat hendak mengulangi pertanyaannya lagi, ketika itu pula saya langsung memotong ucapan si pegawai itu dan menanyakan alamat website dari perusahaannya. Si pegawai memberikan alamat webnya dan karena kebetulan saya sedang membuka internet, maka langsung saja saya telusur.

Wah.. wah.. wah.. hasil penelusuran yang membuat saya terkejut dan kurang menggembirakan, karena dengan memasukan nama perusahaannya pada pencarian Google, hasil yang saya dapati adalah berita-berita atau blog yang berisi testimony dari para korban penipuan perusahaan tersebut. Seketika itu juga saya langsung memutuskan telepon.

Tidak lama kemudian si pegawai itu kembali menelepon saya dan mencoba memastikan. Sebelumnya saya jawab dengan minta maaf karena teleponnya terputus tiba-tiba, lalu saya bilang kepada si penelpon “saya sudah chek perusahaan Bapak di internet dan hasil yang saya dapati membuat saya kecewa, jadi terimakasih atas tawarannya!” lalu kembali saya matikan telepon genggam saya.

Dan mengomentari berita tentang penipuan itu, saya heran kenapa orang-orang kaya yang telah menjadi korban itu tidak melakukan hal yang sama dengan yang saya lakukan, dengan mencoba telusur terlebih dahulu melalui internet sebelum mengikuti tawaran-tawaran yang hanya melalui telepon itu ya?

He… hemmm…
 

Senin, 10 September 2012

Memperbaiki Tulisan

Aku mulai belajar menulis sejak umur empat tahun, waktu itu belum sekolah, tapi kedua orang tuaku dan teman-temanku sudah mengajarkan aku mengenalkan huruf-huruf. Dulu, aku tidak sekolah TK (Taman Kanak-Kanak) seperti temanku yang lain, makanya aku juga tidak bisa menyanyi.

Setelah umur 6 tahun, aku langsung masuk sekolah dasar, tapi aku masih ingat sebelum aku SD, dulu aku sudah bisa menuliskan nama sendiri.

Bagiku, belajar menulis memang bukan hal yang gampang, aku ingat ketika di sekolah dulu diajarkan menulis huruf sambung, bukuku selalu bolong atau kadang sobek karena keseringan menghapus tulisan yang salah. Dan ketika hal yang sama juga terjadi pada anakku ketika salah tulis, aku pun tersenyum, teringat sewaktu dulu aku sibuk memperbaiki tulisanku.

Dan sampai sekarang ini, aku pun masih terus belajar memperbaiki tulisanku, khususnya di blog ini. Awal aku memulai ngeblog, tulisanku sangat berantakan, sedikit demi sedikit aku mencoba memperbaikinya.

Jadi, kalau ada yang pernah membaca tulisanku tapi kemudian ada kata-kata yang hilang, itu berarti aku sudah merubah mengubah atau menghapusnya. Tetapi setiap kali aku mau merubah mengubah atau menghapus kata dalam tulisan, aku mencoba memastikan kalau hal itu tidak mengurangi isi dan makna secara keseluruhan kok :D


Senin, 03 September 2012

Sekolahnya Gratis, Bukunya Beli di Mester

Istri sempat sewot, ketika pulang setelah menjemput anakku dari sekolah. Aku baru tahu permasalahannya setelah aku mendengar ceritanya. Ternyata, karena anakku tidak mendapatkan buku pelajaran yang dibagikan oleh sekolah. Lalu kenapa sewot?

"Gimana nggak sewot, tadi siang Aji (nama anakku) nggak kebagian buku pelajarannya karena sudah habis sewaktu dibagiin, dan yang nerima buku justru orang tua muridnya setelah saling berebutan, ya sewot gitu loh". kata istriku yang masih  dalam keadaan uring-uringan. Aku mendengarkan sambil kutanyakan, "Kok begitu?".

Menurut cerita istriku, beberapa orang tua murid yang kebetulan nungguin anaknya sekolah di depan kelas tahu kalau mau dibagi buku pelajaran baru, kemudian mereka saling berebutan untuk mendapatkannya. Dan ketika istriku sampai sekolah untuk menjemput anakku yang baru keluar kelas, melihat orang tua murid lainnya mendapatkan buku kemudian menanyakannya, lalu istriku bertanya pada anakku apakah mendapatkan buku juga. Anakku menggelengkan kepala.

Buku pelajaran yang semestinya dibagikan ke anak murid, tapi oleh gurunya dibagikan kepada orang tua yang nungguin anaknya sekolah. Memang selama ini istriku hanya menjemput dan mengantar anak ke sekolah sesuai jam masuk kelas dan keluar saja, tidak menunggu anak di samping kelas selama proses belajar, dan memang akulah yang meminta seperti itu, supaya anak mau belajar mandiri.

Dengan terpaksa, akhirnya istriku meminjam buku dari salah satu murid yang satu kelas dengan anakku untuk dijadikan contoh supaya bisa membeli buku pendidikan itu. Kemudian esoknya aku mengajak istri dan anakku pergi ke Mester Jatinegara untuk mencari buku pendidikan yang sama yang digunakan untuk kelas 1 SD di sekolah. Ada tiga buku yang belum dimiliki anakku, yaitu Matematika, Pendidikan Agama dan Penjasorkes.

Sepulang membeli buku, aku bilang ke istriku, "untuk sekarang ini nggak apa-apa kita beli buku di luar, nanti bapak cari tahu dulu hal yang sebenarnya kenapa di sekolah sampai ada kejadian seperti itu, kalau memang ini ada unsur pelanggaran nanti bapak akan usut dan laporkan ke instansi yang berwenang". kataku mencoba menghibur anak dan istriku.

Aku harap hal ini tidak terjadi lagi kepada anakku dan juga anak murid lainnya.

Published with Blogger-droid v2.0.8

Selasa, 17 Juli 2012

Hari Kedua Masuk Sekolah

Logo DepDikNas
Liburan panjang anak sekolah usai sudah, 2 hari ini anak-anak sekolah kembali ke kelas untuk melanjutkan belajarnya. Begitu juga dengan Setoaji yang mulai mengawali belajar di tingkat Sekolah Dasar.

Sebelumnya kami sebagai orang tua mencoba memilihkan sekolahan unggulan untuknya, namun karena terbentur biaya yang masih belum terjangkau akhirnya kami putuskan untuk masuk sekolah Reguler.

Kesibukan hari kedua tidak seperti hari pertama sekolah yang masuk mulai hari senin 16 Juni 2012, hari selasa ini kelas untuk anakku sudah ditentukan, tapi masih seperti hari sebelumnya, kami sebagai orang tua ikut menyiapkan segala perlengkapan yang akan dibawa ke sekolah, mulai dari pakaian seragam, sepatu, kaos kaki, tas dan alat tulis lainnya.

Mengenakan seragam merah putih seolah merupakan kebanggaan sendiri buat anakku, penuh semangat dan memang terlihat berbeda dibandingkan sewaktu mengenakan seragam TK, tidak terlihat kekanak-kanakan. Sebelumnya, waktu hari pertama sekolah belum menggunakan seragam itu, karena memang belum diwajibkan.

Hari kedua ini anakku masih diantar ibunya ke sekolah, walaupun anak meminta supaya tidak diantar karena ingin berangkat bersama teman-temannya, maklum kami masih belum tega.

Selamat belajar anakku, raihlah cita-citamu, semoga kelak kamu lebih baik dari orang tuamu ini.

Rabu, 14 September 2011

Suatu Hari Di Acara Kick Andy

Sore itu hari rabu 7 september 2011, setelah mengikuti acara Halal Bi Halal di kantorku PT Jakarta Cakratunggal Steel Mills yang mengundang KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) sebagai penceramah (Lebaran bersama Aa Gym, akan ditulis pada postingan berikutnya), aku pulang dengan terburu-buru karena ada ajakan dari salah satu teman nonton Kick Andy Show. Sampai di rumah kemudian segera aku ganti baju dan langsung pergi lagi.


Waktu sudah menunjukan pukul 17.50 ketika nada SMS berdering, segera aku hentikan sepeda motorku. “Ada dimana mas?” begitu isi sms dari temanku, Ani Bertha. Aku masih dalam perjalanan menuju studio Metro TV, lalu aku jawab kalau aku baru sampai Pasar Senen. Macetnya ibukota membuatku hampir terlambat mengikuti acara Kick Andy. Tepat pukul 19.00 aku baru sampai studio dan acara akan segera dimulai.

Bersama salah satu temanku, Rifai, segera aku memasuki gedung studio. “Mau nonton ya mas?” Tanya seorang wanita cantik salah satu crew Metro TV. “Iya mba, dimana ya?” Jawabku. Setelah ditunjukan dimana lokasi shooting untuk acara berlangsung, kemudian aku naik ke lantai 3 dan langsung masuk untuk mencari tempat duduk. Karena datang terlambat akupun duduk di bangku deretan belakang.

Suasana studio sangat ramai dengan diawali sajian beberapa lagu dari Jamaica Café, salah satu band ngetop di Indonesia yang bernyanyi tanpa menggunakan alat music. Selanjutnya pemandu acara memberikan beberapa instruksi untuk jalannya acara supaya bisa berjalan lancar. Aku memperhatikan serius dan dengan sedikit terkejut ketika ada salah satu crew kamera menegurku, “Mas, duduk di paling depan saja masih ada kosong satu lagi” ajaknya. Dengan senang hati akupun mengikuti, “wah.. kebetulan nih” pikirku, dan memang baru kali itu aku bisa ikut nonton secara langsung acara yang biasa aku tonton di layar televisi setiap malam sabtu.

Sang empu yang ditunggu-tunggu akhirnya keluar, Bang Andy F. Noya dengan senyum yang khas menyapa para audience. Lagu Indonesia Raya selalu dinyanyikan setiap mengawali acara Kick Andy Show, dengan khidmat aku ikut menyanyikan sambil beberapa kali melirik melihat layar yang bertuliskan lyric lagu kebangsaan Indonesia itu.

Nara sumber sebagai bintang tamu saat itu sangat unik, para tuna daksa yang memiliki prestasi yang luar biasa membuatku termotivasi dengan semangatnya menjalani hidup. Dengan penyajian yang obyektif, menarik, ceria dan penuh humor segar Bang Andy F Noya membuat audience hanyut dalam suasananya. Dari situ pula aku mendapat buku berjudul “Aku Pasti Bisa” karya Vivi Silivia C. suatu cerita perjuangan hidup dari seorang tuna daksa dari Wonosobo, bernama Alberta Acéng Dani Setiawan. Selain bukunya akupun bisa bertemu langsung dengan tokoh dalam buku itu di acara Kick Andy Show.

Pada setiap waktu break di sela-sela acara, bang andy pun memberikan cerita-cerita humor, walaupun membuat audience terpingkal-pingkal selalu saja beliau menanyakan “garing ya?”.

Menurutku Bang Andy merupakan seorang motivator handal dengan caranya menyajikan secara langsung setiap obyek yang ingin disampaikan. Apabila anda dapat mengenal lebih dekat dengan beliau tentu anda akan menemukan sosok yang ramah dengan jiwa nasionalis dan memiliki segudang pengalaman.

Selasa, 12 Juli 2011

My Grandpa In Memoriam

Makam Ahmad Sumeri.
Kamis, 07 Juli 2011 M, pukul 22.15 WIB atau Jum’at Pahing, 06 Ruwah 1944 pada kalender Jawa, seorang laki-laki tua yang selalu aku kagumi, hormati dan sangat aku banggakan dari sebuah desa kecil di Kabupaten Kebumen itu menyampaikan pesan, bukan dengan ucapan yang keluar dari bibir beliau, atau SMS yang dikirim melalu hand phone beliau, bukan juga surel atau faximile yang aku terima dari beliau, melainkan dengan bahasa alam yang membuat dadaku sesak, nafasku tertahan dan air mataku seolah tak dapat kubendung. Beliau mengabarkan melaui hening yang menyelimuti malam, menyebar pada setiap rumah keluargaku. Pesan estafet itupun sampai ke Jakarta dan aku terima.
Rasa kurang percaya dengan apa yang terjadi, aku pun memastikan pada kerabat-kerabatku, benarkah kakek sudah meninggal dunia? “Iya tris, simbah meninggal dunia” kata kerabatku. Seketika pikiranku kosong untuk beberapa detik dan setelah sadar segera kulanjutkan pesan estafet itu kepada seluruh kerabatku yang di Jakarta.
Aku merupakan cucu pertama dari anak tertua kakekku, sebagai seorang cucu yang selalu diperhatikan aku sungguh merasa kehilangan. Betapa tidak berdaya aku mendengar kabar itu, tanpa daya bibirku tertatih mengucap kata pada sang maha kuasa “Aku mohon kabulkanlah doaku Tuhan”. Doa yang tak terucap dari bibir dan hanya kedalaman hati yang tahu itu aku amini.
Turisno Urip Santoso bin Ahmad Sumeri dan keluarga
Kakek bernama Ahmad Sumeri bin Krama Prawira bin Yasa Manawi, memiliki buyut bernama Setoaji bin Sutrisno Aji bin Turisno Urip Santoso bin Ahmad Sumeri. Kakek meninggalkan 5 anak, 16 cucu, 3 buyut. Kami hanyalah keluarga kecil di kampung itu, namun hampir satu kampung setiap orangnya merasa sudah menjadi bagian dari keluarga kami, terbukti dengan banyaknya kerabat dan tetangga yang turut hadir mengikuti acara pemakaman kakek.
Keluarga, kerabat dan tetangga berdoa untuk almarhum
Sembah sujud dari cucumu mbah.. semoga kasih sayang Tuhan menuntunmu melewati jalan terang menuju alam salam. Kepada yang ditinggalkan semoga diberi ketabahan dan keimanan, serta kepada seluruh kerabat dan siapapun yang sudah membantu baik secara langsung maupun tidak langsung semoga diberi kemudahan oleh Tuhan dalam menempuh perjalanan hidup. Amiiin.

Sembah sujud,
dari cucumu: Sutrisno Aji

Kamis, 09 Juni 2011

Obat itu dekat dengan penyakitnya

daun mengkudu
Khasiat Daun Mengkudu (pace).
Obat-obatan itu ada di sekitar kita, “dimana ada penyakit disitu pasti ada obatnya” kata yang tidak pernah aku lupakan, hal itulah yang ingin aku ceritakan tentang pengalamanku dengan khasiat daun pace (mengkudu).

Daun pace (mengkudu) 9 lembar dicuci memakai air hangat  lalu diperas untuk diambil sarinya, berguna untuk mengobati sakit TB (flek paru-paru) bagi penderita usia anak-anak.

Cerita dari pengalamanku begini :
Waktu itu aku berkunjung ke basecamp SetandanPisang di Jl. Pisangan Lama 3 Rawamangun Jakarta Timur, dengan wajah kusut yang tak bisa aku tutup-tutupi, aku sampaikan keluhanku pada kawan-kawan setandan. Aku bercerita kalau baru saja pulang dari Rumah Sakit swasta di kawasan Pulomas Jakarta Timur, setelah melakukan kontrol rutin anakku yang terkena penyakit TB (flek paru-paru).

Aku baru saja datang dan menyampaikan ceritaku tentang kondisi anakku, kawanku langsung menyuruhku pulang. “Pulanglah ke rumahmu, cari pohon pace di sekitar rumahmu, petik daunnya sembilan lembar, dicuci, peras lalu ambil airnya dan minumkan ke anakmu, sehari sekali selama tiga hari” kata kawanku. Aku langsung jalan pulang ke rumah dan kuturuti saran kawanku.

Sebelumnya, enam bulan lamanya anakku harus menjalani  pengobatan yang tidak boleh berhenti seharipun, setiap kuminumi obat aku selalu sedih, betapa tersiksanya anakku ini. Setelah selesai jangka waktu yang disarankan untuk minum obat oleh dokter spesialis anak, kembali kuajak anakku kontrol untuk melakukan tes radiologi. Hasil yang aku dapat sungguh membuatku tambah sedih karena dokter bilang “Kondisi anak bapak sudah membaik tapi belum benar-benar sembuh” . “Untuk penderita anak-anak memang terkadang demikian, beda dengan penderita dewasa yang bisa sembuh total” lanjutnya.

Betapa bodohnya aku yang tak bisa menjaga anakku, hal itu yang sering terlintas di pikiranku.  Tetapi sekarang anakku sudah sembuh karena saran kawanku, aku ikuti caranya mengobati penyakit TB yang pernah menimpa anaknya juga dan sekarang sudah sembuh total. Tentunya aku memastikan dari hasil test radiologi yang telah diperiksa dokter.

Demikian pengalaman ini mudah-mudahan bermanfaat.

Sabtu, 30 April 2011

Kisah Seorang Pawang Binatang

Seorang pawang binatang yang lihai tidak akan takut dengan binatang yang buas sekalipun. Hal itu dikarenakan sang pawang memiliki ikatan hati dengan si binatang. Rasa cinta dan sayang yang begitu besar pada setiap binatang yang ditemuinya membuat dia mengerti setiap tingkah laku binatang. Dan dari rasa itulah yang mendorongnya untuk mengenali sifat dan karakter binatang, sehingga seorang pawang dapat diterima di lingkungan binatang.
Pawang binatang bebas bercanda, bercengkerama dan bersenda gurau di hutan belantara dengan binatang-binatang yang buas sekalipun. Dia tidak pernah takut seandainya ada seekor binatang yang sedang tidak mood atau ngambek itu menyerangnya. Dia benar-benar tahu setiap isi hati dan pikiran binatang.

Tapi keberhasilan seorang pawang binatang bukan karena dia bisa menjinakan buat dirinya saja, melainkan apakah setelah dia membawa binatang buas itu keluar dari lingkungannya bisa diterima oleh orang lain dan binatang itu tidak menakut-nakuti orang lain di sekitanya.


Penutup Posting di bulan April 2011
Pisangan Lama III, Jakarta Timur.
(True story: saat ku mengenal wanita penghibur)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Grants For Single Moms