Kala itu aku sedang nongkrong di warung kopi sambil menikmati pisang goreng yang hangat. Disana aku bertemu sosok orang tua berjenggot lebat dengan wajah keriput namun jelas terpancar kedamaian dari wajahnya yang penuh guratan. Setelah aku berbincang-bincang dengan beliau, akupun beranggapan bahwa bukan hanya kedamaian yang tersimpan di balik wajahnya yang teduh, tetapi juga banyak berbagai pengalaman hidup yang pasti sudah dilaluinya.
Dari perbincangan kesana kemari aku semakin meyakini kalau Si Mbah ini orang yang pandai, cerdas tapi juga lugu. Si Mbah benar-benar memahami tentang kehidupan yang dijalaninya, itu yang membuatku semakin penasaran dan banyak bertanya kepadanya. Berbagai pertanyaanku selalu saja bisa dijawabnya dengan ringan tanpa bisa aku tolak untuk mengakuinya. Bahkan dengan pertanyaan-pertanyaanku yang kritispun Si Mbah menjawabnya dengan santai.
Dari perbincangan kesana kemari aku semakin meyakini kalau Si Mbah ini orang yang pandai, cerdas tapi juga lugu. Si Mbah benar-benar memahami tentang kehidupan yang dijalaninya, itu yang membuatku semakin penasaran dan banyak bertanya kepadanya. Berbagai pertanyaanku selalu saja bisa dijawabnya dengan ringan tanpa bisa aku tolak untuk mengakuinya. Bahkan dengan pertanyaan-pertanyaanku yang kritispun Si Mbah menjawabnya dengan santai.


17.18.00
Setandan pisang