Rabu, 05 Desember 2012

Kenapa Saya Tidak Bilang "YA"

Ilustrasi menerima telpon gelap. Gambar: SoloPos
Melihat berita di televisi semalam, saya sempat terkejut. Ternyata masih ada dan bahkan tidak sedikit orang yang telah menjadi korban penipuan berkedok investasi dari Solid Gold Berjangka, tepatnya di wilayah Makassar Sulawesi Selatan dimana berita itu berasal.

Berita tentang nasabah yang mengamuk untuk menuntut ganti rugi di salah satu cabang perusahaan di Makassar itu mengingatkan saya pada pegawai Solid Gold Berjangka Jakarta yang waktu itu menelepon saya. Dengan memberikan penjelasan-penjelasan yang sangat meyakinkan dan sesekali memberikan pertanyaan kepada saya, apakah bersedia mengikuti program yang ditawarkan.

Sekitar setahun yang lalu, saya pun bisa saja mengalami kejadian serupa, kalau saja saya tidak cepat mencari tahu tentang profil perusahaan tersebut, ketika salah satu pegawai dari perusahaan itu menelepon saya untuk menawarkan program investasi.

Waktu itu saya sedang berada di depan komputer ketika seorang pegawai perusahaan Solid Gold Berjangka menghubungi saya. Kecurigaan pun muncul karena beberapa kali si penelpon memberikan pertanyaan dan penjelasan berulang-ulang kepada saya dengan pertanyaan dan penjelasan yang sama dan hanya saya jawab dengan kata-kata “he..hemm” dan tidak menggunakan kata “iya” atau “tidak”. Saat hendak mengulangi pertanyaannya lagi, ketika itu pula saya langsung memotong ucapan si pegawai itu dan menanyakan alamat website dari perusahaannya. Si pegawai memberikan alamat webnya dan karena kebetulan saya sedang membuka internet, maka langsung saja saya telusur.

Wah.. wah.. wah.. hasil penelusuran yang membuat saya terkejut dan kurang menggembirakan, karena dengan memasukan nama perusahaannya pada pencarian Google, hasil yang saya dapati adalah berita-berita atau blog yang berisi testimony dari para korban penipuan perusahaan tersebut. Seketika itu juga saya langsung memutuskan telepon.

Tidak lama kemudian si pegawai itu kembali menelepon saya dan mencoba memastikan. Sebelumnya saya jawab dengan minta maaf karena teleponnya terputus tiba-tiba, lalu saya bilang kepada si penelpon “saya sudah chek perusahaan Bapak di internet dan hasil yang saya dapati membuat saya kecewa, jadi terimakasih atas tawarannya!” lalu kembali saya matikan telepon genggam saya.

Dan mengomentari berita tentang penipuan itu, saya heran kenapa orang-orang kaya yang telah menjadi korban itu tidak melakukan hal yang sama dengan yang saya lakukan, dengan mencoba telusur terlebih dahulu melalui internet sebelum mengikuti tawaran-tawaran yang hanya melalui telepon itu ya?

He… hemmm…
 

0 Komentar:

Posting Komentar

Bagi komentar anda, monggo...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Grants For Single Moms