
ilustrasi bercermin
Aku letakkan secangkir kopi
diatas lantai tampatku selonjoran di ruang depan. Di ruang itu tidak ada meja,
sofa ataupun bufet yang terpajang, hanya lantai dan tanpa permadani menyelimuti, itulah kenapa aku hanya menyebutnya ruang depan bukan ruang tamu.
Dengan terus senyum-senyum
sendiri aku mencoba menyalakan pemantik, lalu sebatang rokok disela-sela jariku
itu pun terbakar.
Aku kembali tersenyum sambil menghembuskan asap dari mulutku.
Bukan karena tidak ada sebab
mengapa aku senyum-senyum sendiri. Senyumku itu, karena melihat ada seorang
perempuan cantik sedang bergaya didepan jendela rumahku sambil merapihkan
rambutnya yang hitam panjang dan tidak berantakan.
Kaca jendela rumahku memang gelap
(Rayben),...