Senin, 13 Juni 2011

Memahami Syair

Aca dan syair [photo: Nizar Ikbal]
SYAIR dapat juga diartikan sebagai singkatan dari Syahadat Irama. Syahadat diartikan sebagai pernyataan dari suatu penyaksian (saksi menyaksikan), Irama diartikan sebagai alunan suara yang terjadi berulang-ulang membentuk suatu ritme.

Memahami syair dari Syahadat Irama dilihat dengan kenyataan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari yaitu menyaksikan alunan nada/irama kehidupan, seperti adanya siang dan malam, terang dan gelap, suka dan duka, pahit dan manis, baik dan buruk. Hal itu kemudian digambarkan melalui tulisan, ucapan yang kemudian dapat lebih mudah dipahami oleh penulis atau pembaca syair itu.

Bahasa dalam syair dapat dijadikan penghubung dua dimensi yang berbeda, seperti halnya seorang pujangga yang mencoba menyampaikan perasaannya supaya dapat diterima oleh yang lain atau untuk mengetuk perasaan si pendengar.

Syair sudah ada di Indonesia sejak jaman dahulu, tidak  ada yang tahu pasti kapan syair itu mulai ditulis dan diperdengarkan. Mungkin diantara kita pernah mendengar cerita dari suatu legenda Tutur Tinular dari sejarah Majapahit yang mengisahkan tokoh Arya Dwipangga seorang ahli syair atau kemudian dikenal sebagai Pendekar Syair Berdarah. Atau sebagai orang jawa yang menyakini tulisan aksara jawa yang merupakan bentuk salah satu syair yang dituangkan dalam 4 kalimat yang terdiri dari 20 suku kata dan lain sebagainya.

Beberapa ahli yang meneliti darimana istilah syair itu berasal dapat dicari dari segi bahasa, makna, perkembangan dan bukti syair itu dipelajari. Apabila syair ini hanya sebatas tulisan yang dibuat oleh manusia, hal itu tentu dapat ditelusuri darimana awal pembuatannya, namun apabila kemudian syair itu merupakan bentuk penyaksian irama kehidupan dapat kita bayangkan sejauh mana syair itu mulai diperdengarkan.

Banyak bentuk syair yang kemudian dirangkum menjadi 5 kategori, yaitu:
1.       1. Syair Panji
2.       2. Syair Romantis
3.       3. Syair Kiasan
4.       4. Syair Sejarah
5.       5. Syair Agama
(sumber= http://id.wikipedia.org/wiki/Syair)

Pembuat syair tak lepas dari caranya menuangkan kata-kata, ada yang mudah dipahami kadang tak jarang yang harus dibaca berulang-ulang untuk dapat mengerti maksud dari isi syair itu. Apa yang dapat dipelajari dari syair, tentu masing-masing dapat memahami sesuai tingkat pengetahuannya. Hal inilah yang membuat saya merasa ingin menuangkan pemahaman saya tentang syair. Perbedaan dalam pemahaman setiap individu akan semakin menambah pengetahuan tentang syair.

Tidak ada bedanya dengan menulis di blog yang harus pintar mengolah kata demi kata untuk menyampaikan isi dari tulisannya. Walaupun banyak yang mengesampingkan hal itu dan hanya mengharapkan atau meningkatkan traffic pengunjung saja. Mungkin termasuk saya yang kurang pintar dalam merangkai kata-kata, sehingga kadang menuai kecaman dari hasil penulisan yang kurang tepat.

Tetapi apapun itu, dunia ini tak bisa lepas dari syair-syair walaupun itu hanya sebatas ucapan dan tulisan kata-kata. Terlepas dari itu semua, waktu yang tepat sangat mempengaruhi dalam penyampaiannya.

Bagaimana anda memahami syair?

11 Komentar:

sibair mengatakan... Reply Comment

*manggut2* *nyatet*

Unknown mengatakan... Reply Comment

@Mas Bair: hehehe dudu PR loh mas... :D

rumputilalang mengatakan... Reply Comment

suka syair juga sob?

SetandanPisang mengatakan... Reply Comment

@ruput dan ilalang: iya broth.. syair tak bisa lepas dari keseharianku :)

Eko Eshape mengatakan... Reply Comment

Berbagi sembari ngopi,
bagus tuh kalimatnya

Salam sehati

SetandanPisang mengatakan... Reply Comment

@Bung Eshape Waskita: terima kasih komentarnya, mudah2an cocok kalo disanding dengan pisang :)

Anonim mengatakan... Reply Comment

nais inpoh gan ^_^
*kunjungan balasan dari anak jakarta yg merantau ke banjarmasin =D

Unknown mengatakan... Reply Comment

@arohmanpanji: terima kasih ndan :)

SetandanPisang mengatakan... Reply Comment

@arohmanpanji: terima kasih ndan :)

arohmanpanji mengatakan... Reply Comment

nais inpoh gan ^_^
*kunjungan balasan dari anak jakarta yg merantau ke banjarmasin =D

SetandanPisang mengatakan... Reply Comment

@ruput dan ilalang: iya broth.. syair tak bisa lepas dari keseharianku :)

Posting Komentar

Bagi komentar anda, monggo...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Grants For Single Moms